(Epochtimes.co.id)Konservator dan Restorator seni sering bertanya-tanya tentang keaslian bahan yang digunakan dalam karya seni, misalnya apakah lazuli lapis pada lukisan Madonna karya Raphael atau beberapa lapisan marmer pada patung David karya Michelangelo yang terkenal, benar-benar asli atau ditambahkan kemudian.
Awal tahun ini, siswa SMA bebas untuk masuk di Galeri Nasional Seni Kuno Roma untuk mempelajari alat inovatif guna analisis ilmiah Molab (Mobile Laboratory – Laboratorium Berjalan).
Dikoordinasikan oleh SMAArt (Scientific Methodologies applied to Archeology and Art) dari Universitas Perugia, Italia, Molab telah melakukan perjalanan ke museum di seluruh dunia selama tujuh tahun terakhir.
Peralatan yang digunakan Molab terdiri dari fluoresensi sinar-x dan spektroskopi untuk mikroskop optik digital, yang memungkinkan mempelajari karya seni di tempat pameran, sehingga menghilangkan risiko terhadap karya seni yang terkait dengan transportasi.
Keunikan Molab yang lain adalah memungkinkan untuk menganalisis karya seni tanpa harus menghapus bagian dari karya tersebut, seperti yang dituturkan oleh Antonio Sgamellotti, profesor di Institut Ilmu Molekuler dan Teknologi dari Dewan Riset Nasional dan rekan pendiri proyek Molab.
Objek penyelidikan Molab meliputi karya-karya seniman terkenal seperti Giotto, Perugino, Filippo Lippi, Mantegna, dan Caravaggio. “Teknik noninvasif adalah satu-satunya yang dapat diterapkan,” kata Sgamellotti. Dengan demikian Molab melaksanakan tugas sesuai dengan etika konservasi.
Selain itu Molab juga memiliki keuntungan ekonomis. “Dapatkah Anda bayangkan biaya asuransi yang harus dianggarkan untuk mengangkut sebuah karya seni ke laboratorium biasa?” kata Sgamellotti, mengacu pada studi tentang karya Madonna of the Yarnwinder, oleh Leonardo da Vinci.
Sgamellotti saat ini berkonsentrasi pada studinya tentang naskah kuno suku-suku di Meksiko pra-invansi Spanyol. “Naskah kuno ini di dunia kini hanya tinggal 15 buah, dan yang 14 berada di Eropa,” katanya.
.jpg) |
| Lukisan tidak selalu harus mengikuti sketsa persiapan. Dengan menggunakan fotografi inframerah, para ilmuwan Italia menemukan kasus ini dalam karya The Virgin of the Rocks, yang menggambarkan Maria dan Kristus bersama bayi Yohanes Pembaptis dan malaikat dalam lingkungan berbatu. Virgin of the Rocks, Leonardo da Vinci (1452-1519), cat minyak di atas panel kayu, 1506, Galeri Nasional London. (ARTRENEWAL.ORG) |
|
Mempelajari Karya Seni
Ketika Molab meneliti sebuah karya seni, juga dapat membuat konservator (perawat karya seni) memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang karya seni. “Ada kemungkinan untuk mengevolusi pekerjaan konservator,” kata Sgamellotti.
Reflektografi merupakan salah satu metode yang hampir selalu digunakan oleh Molab. Refletografi adalah sebuah metode yang memotret karya seni dengan menggunakan inframerah, sehingga dapat terlihat bekas-bekas sketsa sang seniman.
Sketsa mungkin tidak selalu bertepatan dengan karya seni yang dihasilkan, seperti dalam kasus sketsa persiapan dari karya Leonardo da Vinci, di antaranya salah satu karya terbesarnya, The Last Supper dan Madonna of the Rocks.
“Tidak hanya itu, Molab juga memungkinkan kita untuk memeriksa apakah bahan-bahan yang tampak sekarang ini benar-benar kompatibel dengan periode sejarah karya seni,” kata Sgamellotti. Sebagai contoh, kandungan titanium-dioksida putih menunjukkan bahwa lukisan itu termasuk dalam seni lukis modern, karena bahan tersebut tidak dapat ditemukan dalam lukisan Renaisans.”
Pemugaran
Kerja sama yang intens dari para ilmuwan dan konservator selama Molab melakukan penelitian selama 4-5 hari di museum dapat memberikan hasil secara langsung, dan pemugar karya seni juga mendapat manfaat dari data Molab itu, menurut penuturan Sgamellotti.
Dalam lukisan Madonna of the Goldfinch karya Raphael, muncul pertanyaan apakah lapis lazuli (batu permata langka yang dihargai sejak zaman kuno karena warna birunya yang indah) yang digunakan benar-benar asli atau ditambahkan selama pemugaran pada abad ke-18 atau 19. “Melalui Molab, ditemukan bahwa pigmen itu asli dari alam,” kata Sgamellotti, sambil menambahkan bahwa sebagai hasilnya hal itu benar-benar asli dan tidak ditambahkan selama pemugaran.
Sgamellotti juga menyebutkan bagaimana pemeliharaan patung David karya Michelangelo. Molab mendeteksi kontaminan dalam jumlah kecil dari plester, lilin, dan oksalat, yang merupakan produk degradasi zat organik. “Saya memutuskan untuk menghapus plester, karena bisa berbahaya, namun tetap meninggalkan lilin dan oksalat sebagai pelindung, sehingga tidak mengubah penampilan secara estetika,” katanya.
Puluhan kota dan museum di seluruh dunia mengumpulkan karya-karya yang tak ternilai dari masa lalu. Pelestarian harta seni ini memang adalah tugas yang berat, namun dengan proyek Molab, pecinta seni dan sarjana kini dapat memiliki “rekan” yang sangat berguna. “Molab berfungsi untuk menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan dapat membantu konservasi dan pengetahuan tentang warisan seni,” kata Sgamellotti.
Untuk tujuan ini, selama Pekan Kebudayaan ke-14 tahun ini, program pendidikan yang dicanangkan adalah Inside Art With Science (Masuki Seni dengan Ilmu Pengetahuan). Pekan Budaya merupakan kolaborasi antara pengawasan untuk Warisan, Sejarah Artistik, dan Etno-Antropologi; yang digalakkan oleh Museum Kota Roma, Italia, dan kantor pers CNR.
Program ini bertujuan mempromosikan alat-alat ilmiah untuk pelestarian dan pemulihan warisan budaya. Kaum muda memiliki kesempatan untuk melihat penggunaan teknologi pada karya seni dan menjadi lebih sadar akan pelestarian warisan budaya mereka. (Massimiliano Russano / The Epoch Times / osc)