(Epochtimes.co.id)Surabaya _ Ritual Yadnya Kasada atau yang lebih dikenal dengan Kasodo adalah upacara persembahan mewujudkan rasa terima kasih yang ditujukan untuk Sang Hyang Widhi dan para leluhur suku Tengger dan diadakan pada hari ke-14 setiap bulan Kasada.
Kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger dan setiap tahun diadakan upacara Kasada di Pura Luhur Poten yang terletak di lautan pasir dan kawah Gunung Bromo. Sebagai pemeluk agama Hindu, Suku Tengger tidak seperti pemeluk agama Hindu pada umumnya, memiliki candi-candi sebagai tempat peribadatan, namun bila melakukan peribadatan bertempat di punden, danyang dan poten.
Upacara dimulai tengah malam dipimpin oleh pemimpin agama Hindu Tengger yang dikenal sebagai Dukun. Bagi masyarakat Tengger, peran dukun sangat penting. Tugas mereka adalah untuk memimpin kegiatan seremonial hingga pernikahan.
Upacara Yadnya Kasada 2012 ini didahului dengan penobatan dukun baru, sebelum dilanjutkan ke acara persembahan. Umat Hindu Tengger memberikan persembahan atau sajenan kepada para dewa dalam bentuk yang berbeda.
Untuk berbagai kesempatan berbagai jenis makanan yang ditawarkan sebagai Sajenan. Sebagai contoh, untuk acara pernikahan yaitu kerucut beras, Tumpeng Walagara, ini dianggap menjadi sumber berkat bagi pasangan serta seluruh desa. Jenis kedua menawarkan makanan yang disebut Suguhan, adalah mereka yang ditawarkan oleh umat Hindu Tengger untuk roh leluhur mereka. Jenis ketiga disebut Pemadat, adalah makanan persembahan kepada roh-roh jahat untuk menangkal nasib buruk, dan biasanya terdiri dari daging, nasi dan pisang terbungkus dalam daun dan ditempatkan di tempat-tempat dianggap tidak menguntungkan seperti kuburan, jembatan dan persimpangan jalan.
Untuk tahun ini, persembahan utama berupa seekor kerbau. Diiringi musik tradisional khas Tengger, semua sesaji dibawa ke kawah Bromo. Setelah selesai upacara di Pura Luhur Poten, semua sesaji diarak menuju Gunung Bromo untuk dilempar ke dalam kawah.
Di tepi kawah Gunung Bromo telah menunggu puluhan pengemis dan penduduk asli Tengger yang hidup di sekitar lereng Gunung Bromo. Mereka menunggu umat Hindu tengger yang melemparkan sesaji berupa sayur, ayam, alat tulis, dan uang.
Acara Yadnya Kasada telah menjadi agenda tahunan pariwisata Indonesia. Ribuan turis lokal dan asing, serta puluhan jurnalis datang untuk menyaksikan acara ini. Dinginnya suhu udara yang mencapai 10 derajat Celcius dan beratnya medan berpasir yang harus dilalui untuk bisa sampai ke puncak Gunung Bromo tidak menyurutkan niat ribuan pengunjung.
Anak tangga yang dipakai untuk naik ke puncak Gunung Bromo licin karena penuh abu dan pasir. Cukup sulit untuk naik dan turun di sekitar 300 anak tangga tersebut. Hal tersebut menjadi rejeki tersendiri bagi penduduk lokal Tengger yang berprofesi sebagai tukang ojek, sewa jeep, dan sewa kuda. Tidak sedikit pengunjung yang memanfaatkan jasa mereka untuk mencapai anak tangga pertama. Rejeki juga diraup oleh pedagang asesoris seperti sarung tangan, syal, tutup kepala, serta makanan dan minuman. (Robert Poe/Epochtimes)
 |
| KIRI: Pendeta Hindu Tengger di Pura Luhur Poten; KANAN: Tangga menuju puncak Bromo penuh pasir. (ROBERTUS PUDYANTO/THE EPOCH TIMES) |
|