Home Berita Nasional Berita Internasional Berita dan Budaya China Bisnis dan Ekonomi Kehidupan Kesehatan Iptek Entertainment Wisata dan Keluarga Serba Serbi Video Youmaker

Percetakan dan Souvenir
Page : << 1 2 3 4 5 ... 61 >>

Share:   Lintas Berita     Facebook     Tweet     Google     Digg     del.icio.us

 Cetak    Email    Komentar

Jumat, 06 April 2012
KEBUN BINATANG SURABAYA (KBS), MIMPI BURUK BAGI HEWAN DAN MANUSIA


Damai, bayi orang utan di KBS. (ROBERT PUDYANTO/THE EPOCH TIMES)
Damai, bayi orang utan di KBS. (ROBERT PUDYANTO/THE EPOCH TIMES)
(Epochtimes.co.id)

Data Kebun Binatang Surabaya (KBS): Luas lahan 15 hektar. Jumlah satwa 4.021. Jumlah spesies 220. 28 ekor usia tua dan kurang sehat. 43 ekor sakit parah. Jumlah satwa terlalu banyak. Tidak sesuai dengan area yang ada. Menurut Hadi Prasetyo, Ketua TPS KBS 2, perlu dana besar lebih kurang 90 milyar rupiah untuk benahi KBS.

Permasalahan di KBS sudah menjadi isu internasional. Beberapa pihak asing, baik dari media maupun kebun binatang lain sudah berkunjung ke KBS dan turut prihatin melihat kondisi KBS yang semakin memburuk akibat konflik internal pengurus yang berkepanjangan.

Konflik terjadi antara tim pengelola lama dan baru serta Walikota Surabaya yang menolak menjadi pengelola karena takut dianggap menyalahi Peraturan Pemerintah.

Kementerian Kehutanan Indonesia mengisyaratkan untuk memberikan pengelolaan sementara KBS ke Pemkot Surabaya. Terlihat dengan surat Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Darori kepada DPRD Surabaya (S.94/IV-KKH/2012) yang isinya antara lain memberi kewenangan kepada Pemkot Surabaya sebagai pengelola sementara pada masa transisi sebelum diserahkan kepada BUMD atau badan usaha lain.

Di lain pihak, Walikota Surabaya, Tri Rismaharini menegaskan bahwa Pemkot Surabaya tidak akan bergabung lagi dalam TPS KBS, karena akan bertentangan dengan PP nomor 6/2006, tentang pengelolaan barang milik negara/daerah yang seharusnya dikelola oleh badan usaha tersendiri, dan bukannya Pemkot.

Kebun Binatang Tierpark Berlin, Jerman dan CNN telah datang ke KBS pada Sabtu lalu (24/3). Mereka menyoroti masalah jumlah satwa yang terlalu banyak dalam satu kandang dan kualitas makanan satwa yang kurang memadai. Hal itulah yang menyebabkan kondisi satwa menjadi kurang sehat. Konflik berkepanjangan menyebabkan hampir 50 ekor satwa sakit parah, dan beberapa pekerja di KBS juga sakit. Penyakit yang rentan diderita oleh pekerja KBS adalah hepatitis dan tuberkulosis.

Data terakhir: (keterangan Toni Sumampouw: Ketua Harian Tim Pengelola Sementara (TPS) 2 Kebun Binatang Surabaya)

- November 2011: seekor Kijang jantan dengan nama latin Muntiacus berumur 1 tahun mati. Pihak KBS menyatakan matinya kijang karena faktor alam, karena kedinginan setelah Surabaya diguyur hujan deras.

- 8 Nopember 2011: seekor komodo mati.

- 1 maret 2012: jerapah bernama Kliwon mati. Salah satu penyebab kematian adalah karena TBC. Penyebab lain karena rusaknya organ pencernaan. Ditemukan 20 kg benda asing berupa plastik di lambung. Juga banyak cacing di dalam tubuhnya.

- 2010 dan 2011: Harimau Sumatera mati karena hepatitis.

- Maret 2012: Beruang Hitam Kanada menderita sakit kulit parah dan berada di ruang  khusus klinik dan karantina.

- 17 Maret 2012: Banteng Jawa (Bos javanicus) jantan, bernama leo, mati karena patah kaki terperosok selokan di pinggir kandang (13 Maret 2012).

- Maret 2012: 3 spesies burung (200 ekor) ditaruh dalam 1 kandang berukuran 15 x 20 meter, yaitu Australian pelikan, kuntul putih besar, black cormorant.

- 24 Februari 2012: seekor babi hutan mati. Ditemukan tanda-tanda keracunan sianida di lambung, jantung, dan paru-paru babi hutan yang habitat aslinya di Pulau Jawa itu.

250 hewan koleksi KBS mati selama 2011. Di antaranya, kambing gunung mati akibat gangguan pencernaan. Ternyata, setelah dibedah, di dalam perutnya ditemukan kantong plastik. Begitu juga dengan matinya seekor buaya, yang di dalam perutnya ditemukan 25 batu.

Damai, nama seekor bayi orang hutan Kalimantan, jenis kelamin betina, berumur 6 bulan, merupakan salah satu hewan yang masuk dalam ruang perawatan bayi satwa KBS. Damai dimasukkan ke dalam perawatan khusus karena sejak lahir induknya tidak mau merawatnya. Orang hutan Kalimantan merupakan jenis hewan yang termasuk langka di dunia yang harus dilindungi keberadaannya dan banyak terdapat di Indonesia. Saat ini, damai masih dalam tahap belajar berjalan, memegang sesuatu, bergelantungan, dan menggigit karena giginya baru tumbuh.

Ruang perawatan khusus diperuntukkan bagi hewan langka, hewan yang bermasalah dengan induknya setelah kelahiran, dan hewan kanibal yang baru lahir.  (Robert Pudyanto / The Epoch Times)


KIRI: Beruang hitam Kanada milik KBS yang menderita sakit kulit parah;  KANAN: Sekumpulan rusa yang tengah kelaparan.  (ROBERT PUDYANTO/THE EPOCH TIMES)



 
 


   Berita / Artikel Terkait :
  22-5-2013 21:20:24 5 Anak Berbakat Indonesia Bertemu Lionel Messi di Doha
  19-5-2013 21:53:30 Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) 2013 Capai Transaksi 2,1 M
  18-5-2013 21:38:58 Sejarah Pos Indonesia
  17-5-2013 08:51:00 Aksi Damai Falun Gong di Surabaya Hadapi Intervensi - Ada Apa di Balik Itu?
  16-5-2013 20:58:33 Garden Palace Hotel Sambut Ultah Surabaya dengan 31 Jenis Kuliner Tradisional

   Kembali ke atas
 
 
Klik di sini untuk melihat Foto2 Produk Kami di Facebook
 
Epochtimes Indonesia e-paper
 
NTDTV Live Streaming
 
 
 
 
 
 


  About Us | Redaksi | Pasang Iklan | Contact Us | e-Paper | Mobile | Radio | TV | Sitemap | RSS Feeds  
 
Bahasa :
 
 
Copyright 2008 The Epoch Times Indonesia
Ketentuan Penggunaan | Disclaimer