(Epochtimes.co.id)Berkaitan dengan sampah popok yang tak terkendali dari putri-putri saya, rekomendasi dokter ahli anak saya, dan atas beberapa riset yang telah saya pelajari, saya beralih menggunakan popok kain. Setiap orangtua yang menggunakan popok plastik sekali-buang perlu mengetahui potensi resiko kesehatannya. Apa yang saya baca, sungguh mengejutkan saya. Ternyata dalam popok plastik sekali-buang mengandung jejak beragam substansi kimia beracun yang berasal dari sisa pengolahan plastik dan kertas pada saat proses pembuatan, hingga ke bahan-kimia spesifik yang memang ditambahkan pada popok tersebut.
Dalam artikelnya “The Diaper Drama,” Heather L. Sanders, pendiri American Cloth Diaper Association (Asosiasi Popok Kain Amerika), mengatakan bahwa proses pemutihan (bleaching) untuk membuat popok plastik sekali-buang menjadi super-putih menggunakan produk semacam dioxins dan furans (organochlorines), yang “sangat susah dihilangkan dan beracun.” [1]
EPA menggolongkan dioxins seperti halnya karsinogen (zat penyebab kanker), yang menyebabkan “efek kesehatan non-kanker yang merugikan” pada manusia dan binatang yakni perubahan di sistem hormon, perubahan dalam perkembangan janin, mengurangi kapasitas reproduktif, dan imunosupresi (suatu tindakan untuk menekan respons imun) [2]. Jonathan Cambpell seorang konsultan kesehatan di Boston, Massachusetts, merekomendasikan untuk, “Hindari semua bahan-kimia organik yang mengandung kata ‘chloro’ sebagai bagian dari nama mereka”. Dia menyatakan dalam situsnya bahwa dioxins adalah substansi paling beracun yang dikenal manusia, peringkat keduanya hanya diduduki oleh bahan radioaktif [3].
Kelompok Greenpeace mengklaim, “Menurut gambaran WHO (World Health Organization), sebagian kecil dioxin yang besarnya seperti sebutir beras, jika didistribusikan secara merata dan secara langsung ke publik, sama dengan dosis tahunan ‘yang diijinkan’ bagi satu juta orang.” [4]
Dioxins dan furans juga telah dikaitkan dengan penyimpangan belajar, autisme [3], kegagalan kelahiran seperti spinal bifida (cacat lahir yang paling umum dan sangat serius, terjadi ketika kolum spinal janin tidak menutup untuk melindungi batang spinal) [3], memperpendek keluarnya ASI pada periode ibu menyusui, dan berbagai penyakit seperti endometriosis (tumbuhnya jaringan dinding rahim di luar rahim) dan kencing manis [4]. Dioxins telah dicanangkan sebagai target “substansi yang mesti dihapus” pada Konvensi Stockholm [4].
Di tahun 2000, tes yang diadakan oleh Greenpeace menemukan hormon pollutant tributyl tin (TBT) dan senyawa organotin lain dalam berbagai merek popok plastik sekali-buang termasuk “Pampers Baby Dry Mini” yang dijual di Jerman oleh Prector & Gamble [5]. P&G terkesan meremehkan peristiwa tersebut dan tidak menunjukkan usaha untuk menemukan sumber yang menyebabkan pencemaran [5]. Organotins, seperti juga dioxins, juga dikenal sebagai substansi yang sangat beracun walaupun dalam jumlah yang sangat kecil, yang dapat diserap melalui kulit, merusak sistem kekebalan tubuh, dan meniru fungsi hormon dalam tubuh manusia [5].
Sodium polyacrylate (SAP) adalah senyawa kimia berbahaya lain yang terkandung di dalam popok plastik sekali-buang, senyawa ini ditambahkan untuk menjadikan popok berdaya-serap tinggi. Ditambahkan dalam bentuk bubuk di dalam lapisan popok, dan berubah menjadi 'gel' ketika dia bersentuhan dengan cairan [6]. Pada 1985 substansi ini dilarang pengunaannya pada produk tampon di Amerika Serikat, setelah ditemukan adanya keterkaitan substansi tersebut dengan toxic shock syndrome (penyakit yang disebabkan oleh toksin bakteri, jarang terjadi tetapi berpotensi fatal) [1].
Dalam artikelnya “Superabsorbers,” Wayne Goates, seorang tenaga ahli di bidang daya-serap kimiawi, mengkhawatirkan tentang penggunaan substansi tersebut dan menyatakan bahwa “benda tersebut memang dianggap tidak beracun, namun bila partikel-partikel yang melayang di udara terhisap oleh kita atau bila terjadi kontak dengan mata dapat mengakibatkan beberapa reaksi serius yang merugikan.” [6] Sebagian dari reaksi-reaksi itu, lanjutnya, berhubungan dengan masalah pernapasan.
Ada klaim bahwa para pekerja pabrik dimana SAP diproduksi, menderita kerusakan organ dalam wanita, kelelahan, dan penurunan berat badan, menyebabkan kekhawatiran atas ketiadaan studi jangka panjang yang memperkirakan resiko jangka panjang pemakaian substansi ini pada alat kelamin bayi yang peka [7]. Semua popok mengandung SAP, bahkan pada produk yang “bersahabat dengan lingkungan” [8].
SAP dan sisa polutan lain yang terkandung dalam popok merupakan alasan yang sangat mungkin berdasarkan meningkat drastisnya limbah popok bayi-bayi di Amerika. Mulai dari 7.1 persen pada 1955 menjadi 78 persen pada 1991 [9]. Menurut studi pada 1991 yang disponsori oleh Prector and Gamble, pembuat popok dan Luvs, limbah popok telah terjadi lonjakan (melonjak drastis) hingga 61 persen pada 1991 [10].
Sanders menegaskan bahwa kualitas super-absorbent (penyerap super) tidak hanya menyerap air seni namun juga kelembaban alami kulit bayi, menciptakan kepekaan terhadap kekeringan dan iritasi kulit [1]. Mengganti popok dengan sedikit sering juga membuat bayi lebih peka menderita iritasi popok. Sanders juga menyebutkan bahwa menurut Journal of Pediatrics, 54 persen bayi berusia satu bulan yang menggunakan popok sekali-buang mengalami iritasi dan 16 persen menderita ruam yang parah [1].
Popok sekali-buang juga memancarkan emisi dari plastik dan wewangian, meningkatkan kemungkinan iritasi pernapasan pada bayi. Dalam satu studi pada 1999, tikus-tikus yang dimonitor se-lagi menghirup pancaran emisi dua pertiga tiga merek popok menunjukkan penurunan fungsi paru-paru sehubungan dengan gejala sakit asma. (dalam studi yang diterbitkan, tidak menyebutkan nama merk). Tikus-Tikus yang menghirup pancaran emisi dari satu merk popok kain yang diuji tidak menunjukkan masalah pernapasan ini. Peneliti menyimpulkan, “Popok semestinya dipertimbangkan sebagai salah satu faktor yang mungkin menyebabkan atau memperburuk kondisi-kondisi asma.” [11]
Ketika menggunakan katun, sejumlah pestisida yang mengkhawatirkan yang digunakan untuk menumbuhkannya, kecuali jika dia adalah organik, telah menjadi pertimbangan masalah kesehatan dalam penggunaan popok sekali-buang. Residu dari pestisida ini dapat tertinggal dalam tekstil yang digunakan untuk membuat pakaian kita dan popok kain, maka lebih baik menggunakan popok organik jika keuangan Anda mengijinkan [12]. Kemungkinan juga dapat mengurangi residu pestisida tertentu di dalam material katun melalui berbagai metoda pencucian dengan produk-produk yang berbeda [13].
Karena prosentase keluarga Amerika Serikat yang menggunakan popok sekali-buang sangat tinggi, lebih dari 95 persen [14], efek jangka panjang atas bahan-kimia dalam popok sekali-buang pantas dipertimbangkan dan perlu didokumentasikan. Salah satu perhatian yang muncul berkaitan dengan penggunaan popok sekali-buang jangka panjang adalah merintangi perkembangan buah pelir yang normal pada anak laki-laki yang mungkin mendorong ke arah kemandulan dan kanker testicular di masa dewasa [15].
Mengetahui fakta ini telah membantu saya melakukan yang lebih baik, lebih banyak pilihan informasi dan mengurangi risiko bayi saya terhadap bahan-kimia berbahaya. Walaupun saya belum sepenuhnya menghilangkan penggunaan popok sekali-buang di rumah, saya membatasi penggunaan mereka hanya dalam situasi tertentu.
Nasihat saya bagi para orang tua sederhana: jangan mengikuti tren hanya demi kenyamanan. Anak-anak kita terlalu berharga untuk itu. (epochtimes/feb)
Sumber:
1. Sanders, Heather L. The Diaper Drama. Scene3: Cloth Diapers and Your Child’s Health. Oct. 31, 2008
www.thediaperhyena/diaper_drama.htm
2. Dioxins and Furans. www.epa.gov. Nov. 11, 2008 www.epa.gov/pbt/pubs/dioxins.htm
3.Campbell, Jonathan. Personal Page. Toxic Alert. Nov. 11, 2008 http://www.cqs.com/edioxin.htm
4. Greenpeace. No date. Deadly Dioxin Facts. [Online] www.greenpeace.org.nz/toxics-map/deadly.htm
5. Green Peace Press Release. May 15, 2000. Oct. 12, 2008 archive.greenpeace.org/prereleases/toxics/2000may152.html
6. Goates, Wayne. geocities.com/CapeCanveral/Cockpit/8107/superabsorbers.html?20083
7. Scary ’Sposies: The Real Dangers of Disposable Nappies. www.babiesnappies.co.uk Nov. 12, 2008 www.babiesnappies.co.uk/scary-sposies/
8. Mullen August, Angelina. Diaper Rash: Comparing Diaper Choices. www.realdiaperassociation.org August 2005. [Article from the Real Diaper Association Quarterly Newsletter] Nov. 12, 2008 www.realdiaperassociation.org/real-diape r-news/quarterly_article_mullen_dia per-rash-comparing-diaper-choices.htm
9. Becker, Kim. Why Use Cloth Diapers? Nov. 2003 www.thebaby marketplace.com/whyuseclothdiape rs.pdf
10. The Landbank Consultancy Limited. A Review of Proctor & Gamble’s Environmental Balances for Disposable and Re-useable Nappies. July 1991.
11. Anderson RC, Anderson JH. Acute respiratory effects of diaper emissions. Archive of Environmental Health 54(5): 353—8 Sep-Oct99. Nov. 11, 2008 www.mindfully.org/Plastic/Diaper-Emissions-Asthma.htm
12. Problems with Conventional Cotton Production. www.PANNA.org. Nov. 12, 2008 www.panna.org/files/conventionalCotton.dv.html
13. Mock, Judy, et al. Laundering Pesticide-Soiled Clothing. www.cdc.gov. National Ag Safety Data Base, North Carolina Cooperative Extension Service. Nov. 12, 2008 www.cdc.gov/nasd/docs/d000701-d000800/d000747/d000747.html
14. Rauch, Molly, et al. Diapers. www.TheGreenGuide.com. June 6, 2006. Nov. 4, 2008. www.thegreen guide.com/reports/product.mhtml?id=45
15. Schorr, Melisa. Infertility At-tributed to Diaper Use. www.abcnew.go.com. Sept. 25, 2008 [Accessed 12 Nov. 2008] abcnews.go.com/Health/story?id=117939&page=1