(Epochtimes.co.id)He Shou Wu adalah tumbuhan tahunan dengan panjang batang 90 cm yang biasanya melilit dengan tanaman lainnya. Ada sebuah cerita klasik tentang asal-usul He Shou Wu.
Biksu Wen Xiang hidup pada masa Dinasti Tang. Suatu hari dia bertemu dengan seorang pria tua di depan Gua Huayang. Orang tua itu berkata, “Anda nampak seperti manusia abadi, saya akan memberitahu Anda sebuah resep rahasia.”
Pada periode yang sama ada seorang pria bernama Tian’er. Dia dari Shuen Zhou. Dia lemah, sakit, dan gemar minum minuman keras. Meskipun sudah berusia 58 tahun, dia masih melajang. Suatu malam ia begitu mabuk sampai jatuh tertidur di hutan belantara. Ketika terjaga, ia melihat dua tanaman yang melilit satu sama lain berjarak 60 cm darinya. Dia membutuhkan waktu beberapa saat untuk memisahkan mereka, namun sejurus kemudian mereka saling melilit kembali. Setelah melakukannya tiga atau empat kali, karena ketakjubannya dengan posisi tanaman yang kembali melilit satu sama lain, ia pun menggali tumbuhan tersebut dan membawanya pulang.
Tian’er bertanya pada setiap penduduk desa tapi tidak ada satu pun yang mengetahui tentang tumbuhan itu. Dia mengeringkan dan menyimpannya. Kemudian beberapa penduduk desa berkata kepadanya, “Anda sudah berumur dan tidak memiliki anak, sedangkan tanaman itu tetap bersama bahkan setelah dipisahkan. Mungkin itu tanaman ajaib. Mengapa Anda tidak memakannya dan barangkali mereka bisa membantu?”
Kemudian Bapak Tua Tian’er menumbuk akar tersebut dan meminumnya bersama dengan anggur. Beberapa bulan kemudian dia merasa energik dan mulai memiliki gairah seksual. Segera ia menginginkan seorang istri dan ingin membentuk sebuah keluarga. Pak Tua Tian’er menumbuk akar tersebut kembali dan meminumnya bersama dengan anggur.
Setelah mengonsumsi akar tersebut selama dua tahun, semua penyakitnya hilang, rambut coklatnya berganti hitam gelap, dan kulitnya cerah dan muda. Dalam sepuluh tahun ia memiliki beberapa anak dan ia mengubah namanya dari Tian’er He menjadi Can-Sire He.
Suatu hari Biksu Wen Xiang menemui Can-Sire He dan menasihatinya, “Ini adalah tanaman yang kawin di malam hari. Ketika mengonsumsinya, Anda akan hidup sampai 160 tahun. Guru saya memberikan resep ini kepada saya. Jika saya mengonsumsinya, saya akan mempunyai anak juga, tapi saya seorang biksu dan menjalani kehidupan selibat (tanpa nikah). Kedua tanaman ini dapat membuat Anda energik. Pelaku spiritual (kultivator) tidak boleh menempuh hal seperti itu. Karena Anda menemukannya, yang dapat dianggap sebagai kesempatan langka, itu berarti Anda memang diatur untuk memilikinya. Ini kehendak Tuhan.”
Setelah Can-Sire memahami sifat akar tersebut, kemudian ia menjadikannya sebagai pusaka keluarga dan mewariskannya dari generasi ke generasi. Putranya Xiounen mengikuti langkah ayahnya dan mereka berdua hidup lebih dari 160 tahun. putra Xiounen dipanggil Shou-Wu juga meminum ramuan tumbuhan itu dan hidup lebih dari 130 tahun. Walaupun mereka centenarians (berumur lebih dari seratus tahun), semuanya memiliki rambut hitam gelap sampai akhir hayat mereka.
He-Shou-Wu yang disebut juga persemaian liar, tumbuhan kawin, tanaman kawin malam, atau peri bumi. Mereka bervarietas jantan dan betina: jantan berwarna kuningputih, betina berwarna kuningmerah. Mereka kawin pada malam hari dan dipanen di akhir musim semi sampai pertengahan musim panas atau awal musim gugur.
Akar yang berbentuk bonggol pada tanaman ini memiliki berbagai macam bentuk. Mulai dari bentuk manusia hingga bentuk penyu. Akarnya dianggap sebagai obat dan bagus untuk menambah energi, menghitamkan rambut, meningkatkan corak warna kulit, dan memiliki manfaat jangka panjang seperti pertumbuhan tendon dan tulang, sumsum tulang, panjang umur dan lain-lain. (Dari Koleksi Li Wen Gong Volume-18). (Liao / New Tang Dynasty TV / feb)
.jpg) |
| Pengujian (foto kiri): cairan lengket yang keluar dari irisan; KANAN: Tanaman yang melilit satu sama lain. (SCREENSHOT) |
|