(Epochtimes.co.id)Surabaya _ Penyakit jantung banyak ditakuti hampir semua manusia di seluruh dunia. Penyakit ini umumnya ditemukan pada orang berusia produktif dan biasanya menyerang dengan tiba-tiba, akibatnya terjadi kematian mendadak tanpa sakit sebelumnya. Bagi mereka yang selamat, kemudian dilakukan operasi, banyak yang masih bingung akan kegiatan apa saja yang bisa dilakukan setelah operasi atau setelah diketahui mengidap penyakit ini. Biasanya penderita menanyakan mengenai latihan fisik apa saja yang boleh mereka laksanakan di rumah setelah dipulangkan dari perawatan di rumah sakit.
Kebingungan lainnya misalnya apakah penderita bisa mengikuti program latihan seperti lari pagi atau sejenisnya. Ditambah lagi beberapa orang malah menganjurkan agar berolah raga segera supaya jangan terkena lagi serangan jantung.
Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa serangan jantung yang baru dialaminya itu adalah akibat kurang berolahraga. Ada lagi pertanyaan yang sering dilontarkan misalnya apakah ia boleh segera kembali bekerja?
Hal tersebut membutuhkan bantuan ahlinya untuk pasien jantung. Salah satu rumah sakit yang menyediakan pelayanan tersebut, RS Husada Utama. Dan menyatakan baru merekalah yang memberikan pelayanan yang paripurna khususnya seputar penyakit jantung di Surabaya, sebelumnya RS. Harapan Kita Jakarta.
Prevensi dan rehabilitasi jantung dan pembuluh darah adalah suatu program pencegahan penyakit jantung dan pemulihan setelah pasien mengalami masalah dengan dengan jantungnya atau setelah mengalami operasi jantung dan pembuluh darah. Program tersebut bertujuan untuk membantu penderita jantung dan pembuluh darah untuk mengembalikan status kesehatan fisik, medis, psikologis, sosial, emosional, seksual dan vokasional (pekerjaan) ke kondisi yang optimal.
“Penting sekali berlatih fisik setelah perawatan atau operasi. Karena selain fisik pulih juga perasaan menjadi lebih senang. Setelah berolahraga ada hormon dalam tubuh kita yang menyebabkan kita gembira itu keluar. Seperti efek orang mengonsumsi ekstasi.” Jelas konsultan Pelayanan Prevensi dan Rehabilitasi Kardiovaskular RS Husada Utama dr. Dyana Sarvasti, SpJP. (K). Sayangnya di Surabaya ahli dibidang yang sama dengan beliau masih sangat-sangat minim.
Siapa saja yang memerlukan rehabilitasi kardiovaskular ?
Pada prinsipnya semua pasien yang pernah mengalami serangan jantung dan operasi jantung sebaiknya mengikuti program rehabilitasi kardiovaskular. Diantaranya adalah :
• Paska operasi jantung ( CABG, operasi katup jantung, operasi penyakit jantung bawaan, dll ).
• Paska pemasangan stent/ring pembuluh darah koroner (PTCA/PCI).
• Paska pemasangan alat pacu jantung permanen ( pacemaker permanent / PPM )
• Gagal jantung yang sudah stabil.
• Penyakit jantung koroner ( angina stabil, paska sindroma koroner akut/serangan jantung )
• Penyakit arteri perifer, dan lain-lain.
Kapan rehabilitasi kardiovaskular dimulai ?
Program pemulihan/rehabilitasi jantung dimulai ketika pasien masih dirawat di rumah sakit sampai pasien pulang dan berobat jalan.
Fase I
Rehabilitasi kardiovaskular ketika pasien masih di rumah sakit. Meliputi upaya mobilitasi dini, menghindari tirah baring terlalu lama, mengurangi nyeri paska operasi, latihan napas dan relaksasi. Program disupervisi oleh dokter.
Fase II
Dilakukan kurang lebih 1-3 minggu setelah pasien pulang dari rumah sakit. Tujuannya membantu pasien melalui periode penyembuhan, memberikan pedoman untuk dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari di rumah, di tempat kerja dan menekankan tentang pentingnya prevensi sekunder. Dilakukan latihan secara bertahap. Progresi latihan tergantung dari status risiko pasien, tingkat kebugaran dan kecepatan pemulihan. Program disupervisi oleh dokter.
Fase III
Memberikan pelayanan prevensi dan rehabilitasi jantung jangka panjang untuk pasien-pasien di luar rumah sakit. Target yang hendak dicapai adalah perkembangan dan pemeliharaan dalam jangka panjang. Pasien diharapkan mampu melakukan program rehabilitasi secara mandiri, aman dan mempertahankan pola hidup sehat untuk selamanya, dibantu atau bersama-sama keluarga dan masyarakat sekitarnya.
Siapa saja yang memberikan pelayanan dalam program prevensi dan rehabilitasi kardiovaskular ?
• Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah
• Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi
• Perawat rehabilitasi kardiovaskular
• Fisioterapis
• Psikolog
• Ahli gizi
• Ahli okupas terapi
• Pelatih fisik/trainer
Kegiatan apa saja yang dilakukan selama mengikuti program prevensi dan rehabilitasi kardiovaskular ?
• Evaluasi medis kardiovaskular
• Edukasi dan penyuluhan tentang penyakit kardiovaskular, faktor-faktor risiko, tindakan medis yang perlu dilakukan/telah dilakukan, dan lain-lain.
• Pengendalian faktor risiko
• Konseling
• Penyusunan program latihan fisik/olahraga yang tepat
Apakah manfaat mengikuti program prevensi dan rehabilitasi kardiovaskular ?
• Meningkatkan kebugaran fisik
• Mencegah serangan ulang dan menghambat progresifitas penyakit
• Belajar mengendalikan rasa cemas dan mengurangi stres
• Persiapan untuk kembali bekerja
• Menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah
Ruang Perawatan Jantung (Intermediate Cardiac Care Unit)
Pada kondisi perawatan akut terdapat sebagian kondisi pasien yang membutuhkan perawatan lebih optimal dibandingkan perawatan diruang biasa, tetapi tidak sampai ke level ICU (Intensive Care Unit).
Pasien-pasien tersebut biasanya perlu pemeriksaan tanda vital kehidupan maupun asuhan keperawatan yang lebih intensif tetapi tidak sampai memerlukan monitoring invasive.
Perawatan intermediate diharapkan mampu menurunkan hospital cost sesuai dengan kebutuhan pasien tetapi tetap memberikan pelayanan yang sebaik mungkin. Beberapa kondisi yang membutuhkan perawatan intermediate antara lain :
• Masalah cardiac / jantung yaitu yang memerlukan monitoring tanda vital kehidupan ketat tetapi tidak sampai membutuhkan perawatan ICU.
• Pasca tindakan intervensi perkutan tanpa komplikasi (pemasangan pacu jantung, pemasangan stent).
• Pasca gagal jantung akut yang telah relative stabil setelah perawatan ICU.
• Monitoring aritmia dengan hemodinamik stabil.
• Gagal jantung kongestif tanpa tanda-tanda syok (killip kelas I,II).
• Hipertensi urgensi tanda adanya kerusakan target organ.
(Amelia/Epochtimes)