Home Berita Nasional Berita Internasional Berita dan Budaya China Bisnis dan Ekonomi Kehidupan Kesehatan Iptek Entertainment Wisata dan Keluarga Serba Serbi Video Youmaker

Percetakan dan Souvenir
Page : << 1 2 3 4 5 ... 81 >>

Share:   Lintas Berita     Facebook     Tweet     Google     Digg     del.icio.us

 Cetak    Email    Komentar

Senin, 09 Juli 2012
ANAK-ANAK INGIN BEBAS DARI ASAP ROKOK


Sebuah laporan oleh dokter Inggris telah menemukan bahwa perokok pasif merupakan penyebab lebih dari 20.000 kasus infeksi dada pada anak-anak setiap tahun. (LAURENT FIEVET/AFP/GETTY IMAGES)
Sebuah laporan oleh dokter Inggris telah menemukan bahwa perokok pasif merupakan penyebab lebih dari 20.000 kasus infeksi dada pada anak-anak setiap tahun. (LAURENT FIEVET/AFP/GETTY IMAGES)
(Epochtimes.co.id)

“Ayah dan Ibu, tolong berhenti merokok”, adalah keinginan yang hampir dimiliki oleh semua anak dan mereka bersedia berkorban cukup besar untuk membantu orang tua mereka berhenti merokok, seperti diungkapkan survei pemerintahan terbaru.

Survei yang diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan, menyoroti sikap anak-anak terhadap kebiasaan merokok, menemukan bahwa 98 persen anak yang memiliki orang tua perokok ingin mereka berhenti dan hampir tiga perempat khawatir orang tua mereka meninggal akibat menghisap tembakau.

Lebih dari setengah dari 1.000 anak usia 8 – 13 tahun yang disurvei, siap untuk tidak mendapatkan uang saku, 7 dari 10 anak berjanji untuk melakukan pekerjaan rumah mereka setiap malam dan pergi tidur tepat waktu, dan sepertiga bahkan akan berhenti meminta hadiah Natal.

Anak-anak yang sangat belia ini juga mengungkapkan bahwa mereka ingin hidup dalam lingkungan yang bebas asap rokok, dan sekitar 80 persen tidak menginginkan orang tua merokok di depan mereka, di rumah dan di mobil.

Survei ini memberikan dukungan pada kampanye iklan di televisi dan radio NHS yang diluncurkan awal April yang menyoroti bahaya perokok pasif pada anak-anak.

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan oleh Tobacco Advisory Group of the Royal College of Physicians, iklan ini menunjukkan bahwa merokok yang dilakukan dengan membuka jendela baik di rumah maupun di mobil tidak melindungi anak dari efek membahayakan akibat asap rokok, yang sebagian besar dalam bentuk gas yang tak terlihat dan tidak berbau.

Dalam laporan, perokok pasif dan anak, menemukan bahwa sekitar 2 juta anak terkena paparan rokok pasif di rumah, dan lebih banyak lagi di luar rumah, dan hal ini berdampak besar pada kesehatan mereka. Ribuan anak-anak menderita infeksi paru-paru, infeksi telinga tengah, dan asma setiap tahun, menyebabkan lebih dari 300.000 kunjungan ke dokter umum dan sekitar 9.500 rawat inap, membutuhkan biaya NHS sekitar 300 triliun rupiah. Perokok pasif juga terkait dengan 40 kematian bayi dalam tidurnya, kematian yang tidak dapat dijelaskan, yang merupakan satu dari lima kematian semacam ini setiap tahunnya.

Advisory Group menyerukan langkah-langkah untuk membatasi paparan anak-anak terhadap rokok, menekankan bahwa kaum belia ini hanya dapat dilindungi ketika kebiasaan merokok di kalangan orang dewasa berkurang. Sehingga diperlukan peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya merokok pasif melalui kampanye media dan strategi baru untuk mencegah penyerapan asap rokok pada anak muda.

Anak-anak yang hidup dengan perokok memiliki kesempatan 90 persen menjadi perokok itu sendiri.

Profesor John Britton, mengatakan dalam sebuah pernyataan: “Ini berarti menghilangkan kebiasaan merokok dari kehidupan anak-anak.”

Pandangan ini dilontarkan kembali oleh Royal College of Paediatrics and Child Health (RCPCH), yang mendukung rekomendasi kebijakan dalam laporan ini.

Presiden RCPCH, profesor Terence Stephenson, menyerukan pendekatan baru untuk mengatasi masalah ini. Dia mengatakan dalam sebuah pernyataan: “Kami harus meyakinkan sebuah mobil benar-benar bebas asap jika bepergian dengan anak-anak di dalamnya.”

Kepala Dinas Kesehatan Inggris, profesor Sir Liam Donaldson, juga menyambut baik rekomendasi ini, karena mereka sejalan dengan strategi terkontrol tembakau 10 tahun dari pemerintah Inggris, Masa Depan yang Bebas Asap Rokok.

Menteri Kesehatan Andrew Lansley, mengatakan dalam sebuah pernyataan: “Kami semua tahu merokok berbahaya, namun tidak cukup banyak orang menyadari efek serius yang dihadapi perokok pasif, terutama pada anak-anak.”

Ia berharap kampanye iklan nasional akan “mendorong orang untuk melindungi orang lain agar tidak menjadi perokok pasif”. Lansley mengakui pemerintah perlu melakukan tindakan lebih lanjut. Jadi mulai awal April, sebagai bagian dari strategi, toko-toko besar tidak lagi diperbolehkan memiliki layar iklan untuk rokok. Langkah berikutnya adalah konsultasi mengenai kemasan polos untuk tembakau.

Tidak semua kelompok menyambut baik intervensi pemerintah. Di situs kelompok perokok, Forest, Simon Clark, sang direktur, memposting: “Ini hanya masalah waktu, sebelum orang tua yang penuh kasih pada anaknya dan merokok di dalam atau di sekitar rumah, dituduh melakukan pelecehan anak dan menempatkan anak dalam risiko serta mengambil anak mereka agar mendapatkan perawatan lebih bagus.

“Tembakau adalah produk yang legal. Jika pemerintah tidak ingin anak-anak bahkan terkena bau asap, mereka harus mengubah larangan merokok untuk memungkinkan adanya ruangan bebas merokok di pub dan klub. Itulah satu-satunya solusi yang masuk akal. (Rosemary Byfield / The Epoch Times / feb)



 
 


   Berita / Artikel Terkait :
  22-5-2013 21:20:24 5 Anak Berbakat Indonesia Bertemu Lionel Messi di Doha
  17-5-2013 21:12:57 Keluarga Jenius Asal AS - 6 Anak Mulai Kuliah pada Usia 12 Tahun
  16-5-2013 22:32:28 Serial Pandangan Medis Tradisional Tiongkok: Tips Pemilihan Pakaian Bayi agar Anak Tidak Mudah Sakit
  10-5-2013 09:22:52 Serial Pandangan Medis Tradisional Tiongkok: Cara Perawatan yang Tepat agar Anak Tidak Mudah Sakit
  08-5-2013 11:25:21 Mengorganisir Kamar Anak - Bagaimana Membuatnya Tetap Rapi dan Bersih

   Kembali ke atas
 
 
Klik di sini untuk melihat Foto2 Produk Kami di Facebook
 
Epochtimes Indonesia e-paper
 
NTDTV Live Streaming
 
 
 
 
 
   


  About Us | Redaksi | Pasang Iklan | Contact Us | e-Paper | Mobile | Radio | TV | Sitemap | RSS Feeds  
 
Bahasa :
 
 
Copyright 2008 The Epoch Times Indonesia
Ketentuan Penggunaan | Disclaimer