(Epochtimes.co.id)Bayi yang dilahirkan prematur mengalami peningkatan risiko menderita berbagai masalah kesehatan mental di masa remaja, kata peneliti Inggris.
Gangguan bipolar adalah gangguan kejiwaan yang paling lazim diderita di usia 16-an pada mereka yang lahir sangat prematur. Depresi dan psikosis juga memiliki risiko yang lebih tinggi daripada bayi yang lahir cukup waktu.
Peneliti utama studi, Dr. Chiara Nosarti, dari Institute of Psychiatry, King College London, mengatakan bahwa tim menemukan link yang sangat kuat antara kelahiran prematur dan berbagai masalah kesehatan mental, meski penelitian ini terbatas pada kasus penyakit mental terburuk.
“Karena kami hanya mempertimbangkan kasus terparah yang harus dirujuk ke rumah sakit, mungkin secara riil, keterkaitan ini bahkan lebih kuat,” katanya dalam sebuah pernyataan.
Bekerja sama dengan para peneliti Swedia, tim King’s College menganalisis data dari hampir 1,5 juta kelahiran dan catatan medis di Swedia antara 1973 dan 1985 dan mengidentifikasi semua kelahiran prematur yang dirawat di rumah sakit jiwa pada 2002, ketika mereka berusia antara 17 dan 29.
Temuan ini dipublikasikan dalam Archives of General Psychiatry, menunjukkan bahwa remaja atau dewasa muda yang lahir sebelum minggu ke-32 memiliki tujuh kali lebih mungkin menderita gangguan bipolar daripada kelahiran cukup waktu. Mereka yang lahir prematur sangat awal juga memiliki tiga kali lebih rentan menderita depresi dan dua setengah kali lipat menderita psikosis.
Bagi mereka yang lahir prematur antara 32-36 minggu, ada peningkatan risiko lebih kecil. Bayi prematur sangat rentan terhadap cedera otak akibat komplikasi kelahiran.
“Kami yakin peningkatan risiko gangguan mental pada mereka yang lahir sangat prematur dapat dijelaskan dengan perubahan halus perkembangan otak,” kata Nosarti.
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan hubungan antara kelahiran prematur dan peningkatan risiko skizofrenia. Penelitian ini adalah kali pertama mengamati masalah kesehatan mental yang lebih luas.
“Hubungan kuat yang kami temukan dalam studi ini,” kata Nosarti, “adalah untuk gangguan kesehatan mental yang diketahui memiliki dasar biologis yang kuat, seperti gangguan bipolar”.
Sesuai teori, anomali perkembangan otak pada mereka yang lahir prematur mungkin memainkan peran penting untuk kesehatan mental di kemudian hari.
Tim peneliti juga mengungkapkan bahwa kelahiran prematur terkait dengan peningkatan risiko gangguan makan, ketergantungan alkohol dan ketergantungan obat-obatan.
Nosarti dan peneliti menyarankan agar data kelahiran prematur harus disertakan saat melakukan pemeriksaan dan menangani masalah kesehatan mental pada orang dewasa muda.
“Mekanisme pemeriksaan masa depan yang terkait dengan peningkatan risiko kesehatan mental akibat kelahiran prematur dapat membantu identifikasi awal anak-anak berisiko tinggi, yang kemudian dapat diidentifikasi secara prospektif dan diawasi secara ketat, untuk memutuskan jika, kapan, dan apakah tindakan yang sesuai .” katanya.
Hampir 50.000 kelahiran prematur di Inggris dan Wales terjadi setiap tahun, menurut statistik pemerintah.
Namun, hal ini perlu dilihat dalam perspektif bahwa kasus yang paling parah ini hanya masih mempengaruhi satu dari enam penduduk pada satu waktu. (Rosemary Byfield / The Epoch Times / feb)