(Epochtimes.co.id)iPad yang diproduksi Apple Inc. melanda dunia, kini telah terjual 65 juta unit. Menurut perkiraan analis, permintaan konsumen terhadap produk yang sejenis dengan iPad akan mencapai 120 juta unit. Angka ini sangat mengejutkan. Bahkan lebih luar biasa lagi adalah sejumlah besar penggunanya tidak hanya orang dewasa, melainkan para remaja dan bahkan anak-anak...
Menurut laporan The Wall Street Journal, di Amerika Serikat lebih dari separuh anak-anak kecil menggunakan komputer tablet iPad, iPhone, serta perangkat elektronik layar sentuh sejenis. Gairah anak-anak terhadap perangkat ini membawa banyak masalah bagi orang tua.
Selama bertahun-tahun anak-anak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk program televisi atau video game, hal ini telah membuat sakit kepala bagi banyak orangtua dan guru. Menurut dokter anak dan peneliti pengaruh televisi dan komputer pada anak-anak, mereka menemukan munculnya iPad telah menjadi momok di dunia spiritual anak.
Cerita pengalaman Planktonik
Julia Campins yang tinggal di Seattle, AS, ketika anaknya berusia 2,5 tahun, pertama kali menggunakan iPad. Ketika itu mereka dalam perjalanan penerbangan panjang, anaknya terus menangis selama 4 jam. Untuk menenangkannya, Julia memberinya iPad. Dengan segera anaknya tahu bagaimana menggunakan iPad. Selama 5 jam berikutnya, dengan bergairah ia bermain game yang dirancang khusus untuk anak-anak, grafiti, dan juga melihat “George yang Aneh” serangkaian video seperti ini.
Dalam 1 tahun kemudian, Julia telah mengunduh permainan teka-teki anak, sehingga anaknya lebih sering lagi menggunakan iPad. Dia tampaknya dapat dengan cepat mempelajari kata-kata. Tapi satu hal yang membuat Julia dan suaminya sangat khawatir - mereka menemukan, terkadang bila anaknya menggunakan iPad, akan muncul kondisi trans saraf. Mereka memanggil namanya, sang anak tidak menanggapi. Setelah itu untuk membiarkan anaknya meninggalkan iPad, Julia harus berperang dengan anaknya.
Profesor Sandra Calvert, dari Georgetown University, mengatakan, “Ini adalah wujud konsentrasi.” Sama dengan respon fisiologis anak ketika memfokuskan diri pada permainan Lego Flashboard. Para psikolog menyebutnya Pengalaman Plantonik (mengambang).
Michael Rich direktur rumah Sakit Media dan Pusat Kesehatan Anak dari Boston mengatakan, iPad membawa semacam fenomena Letusan Dopamin, yakni ketika seseorang mendapat kebahagiaan, otak manusia akan menghasilkan reaksi kimia. Banyak aplikasi yang dirancang untuk anak-anak hanya dapat merangsang letusan dopamin - seperti ketika anak-anak menang dalam permainan, dalam program ini tiba-tiba akan muncul gambar menarik dengan suara sebagai hadiah kepada anak yang tentu akan sangat senang dan puas, sehingga mereka akan lebih mendalam larut dalam permainan.
Akhirnya, Julia dan suaminya menghentikan anaknya bermain iPad. Sekarang anak yang berusia 4 tahun itu jarang ribut-ribut lagi ingin bermain iPad. Untungnya, teman-temannya juga tidak sering menyebutkan permainan iPad, sehingga anaknya tidak merasa kehilangan apapun.
Orangtua harus ubah diri sendiri dahulu
iPad, kecanduan komputer fenomena yang melibatkan hampir seluruh pasar global iPad. Tidak hanya di Amerika Serikat, di Kanada fenomena ini juga sangat umum. Banyak anak di Kanada dalam proyek-proyek kelas olahraga tidak memenuhi standar, terutama karena mereka kurang berolahraga, menggunakan sebagian besar waktunya untuk nonton TV, komputer dan bermain video game, duduk di sana dalam waktu lama. Lompat tali, petak umpet dan permainan tradisional hanyalah kenangan masa kecil orang tua atau generasi kakek-neneknya. Sedangkan anak sekarang sudah jarang melakukan permainan semacam itu lagi.
Para ahli menunjukkan, untuk mengubah kebiasaan buruk anak-anak kecanduan komputer, kebiasaan berolahraga buruk, pertama orang tua secara pribadi harus membuat contoh yang baik. Sekarang banyak orangtua mempergunakan banyak waktu mereka untuk bekerja, menjadi kutu buku, ber-chatting-ria sehingga mengabaikan kebersamaan dengan anak. Untuk itu sebagian orang merasa bersalah. Untuk benar-benar membantu anak mereka membangun kebiasaan berolah raga yang baik, orangtua harus bertindak terlebih dahulu dan memberi teladan yang baik kepada anak.
Sebuah fitur penting dari era digital adalah cepat: dalam penyelesaian hal yang sama, sekarang waktu yang digunakan lebih singkat dibanding masa lalu. Kemudian orang-orang memiliki lebih banyak waktunya untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih banyak, sedangkan waktu yang tersedia untuk tinggal bersama keluarga semakin pendek. Peningkatan efisiensi ini tidak hanya gagal untuk membuat orang menyingkirkan kesibukan kerja, tetapi malah melipat-gandakan kita menjadi budak untuk bekerja. Jika terus seperti ini, generasi berikutnya manusia akan menghadapi keadaan kehidupan yang bagaimana?
Sudah waktunya untuk direnungkan, sekarang lah saatnya untuk bertindak. Manusia, seharusnya sedikit lebih berani lagi, tidak perlu mengidolakan apa yang disebut teknologi tinggi, cobalah lepaskan pekerjaan di tangan, kurangi sedikit kehidupan sosial dan berikan diri sedikit waktu untuk dilalui bersama anak-anak, bersama dengan mereka melakukan permainan kejar-kejaran, saling bergelut jatuh bangun, agar mereka dan kita sendiri memiliki tubuh dan jiwa yang sehat. (Zhang Junyi / The Epoch Times / hui)