(Epochtimes.co.id)Sebuah studi terbaru menemukan bahwa susu sapi ternyata menjadi bahan makanan pokok bagi manusia yang hidup pada 7.000 tahun lalu di Gurun Sahara Afrika.
Mural gua Sahara memang telah banyak menggambarkan kegiatan memerah susu sapi di wilayah tersebut di zaman prasejarah, namun karena belum adanya bukti nyata yang telah ditemukan, maka belum dapat disimpulkan apakah hal itu benarbenar terjadi.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan di Nature pada 20 Juni lalu telah memberikan bukti baik secara kimia maupun penanggalan yang lebih akurat mengenai peternakan sapi perah di Afrika.
Dalam studi tersebut, para ilmuwan Inggris dan Italia menganalisis sisa-sisa makanan yang ditemukan di tempat penampungan batu Takarkori di Pegunungan Tadrart Acacus, Libya.
Sisa makanan tersebut seolah diawetkan dalam fragmen panci dimana mereka menemukan molekul lemak hewani dan minyak nabati. Dengan menggunakan teknik yang didasarkan pada isotop karbon, para ilmuwan mampu mengidentifi kasi lemak khusus yang hanya dapat ditemukan dalam kandungan susu di sekitar setengah dari 29 fragmen yang dianalisis.
“Karena cara hewan ruminansia (sapi, domba, dan kambing) dalam mensintesis sumber makanan mereka berbeda dengan tubuh mereka, kita bisa mengatakan bahwa lemak tersebut pasti berasal dari daging atau susu,” jelas pemimpin tim penulis studi, Julie Dunne dari Universitas Bristol, Inggris.
Rekan penulis studi, Evershed Richard dan tim, sebelumnya juga telah menggunakan teknik analisis yang sama di situs arkeologi lain di Eropa dan Near East (wilayah Prancis).
“Bukti peternakan sapi perah tertua, seperti yang sudah diketahui, berada di Fertile Crescent (wilayah di Timur Tengah di sekitar perbatasan Asia dan Afrika) yang telah dimulai sejak sekitar 8000 SM,” kata Dunne. “Penerapan praktek peternakan sapi perah kemudian menyebar di seluruh Eropa. Berdasarkan studi ini, sekarang kita mengetahui bahwa orang-orang kuno juga melakukan perpindahan dari Afrika bagian selatan ke utara, dengan membawa serta ternak mereka, dimana kita masih dapat menemukan jejak mereka setelah 7.000 tahun kemudian.”
Sebuah gaya hidup nomaden yang berpusat pada peternakan sapi, domba, dan kambing diperkirakan telah ada jauh lebih awal daripada sistem cocok tanam atau pembentukan masyarakat petani yang hidup menetap.
“Kita sudah mengetahui betapa pentingnya produk peternakan seperti susu, keju, yoghurt, dan mentega, yang telah berulang kali diekstrak dari hewan di sepanjang masa. Bagi orang-orang zaman Neolitikum Eropa, menjadi menarik untuk menemukan bukti bahwa pola hidup mereka juga berpengaruh pada kehidupan masyarakat prasejarah di Afrika,” kata Dunne dalam siaran pers. (Kat Piper / The Epoch Times / osc)