(Epochtimes.co.id)
Sebuah pergantian dalam menu makanan belalang untuk mengonsumsi karbohidrat guna menghasilkan energi tinggi ketika sedang diburu oleh laba-laba dapat memengaruhi cara pelepasan karbondioksida dari tanah ke atmosfer, menurut hasil riset yang dipublikasikan dalam jurnal Science.
Belalang biasanya lebih senang mengunyah rumput yang kaya nitrogen karena dapat merangsang pertumbuhan dan reproduksi mereka.
Namun ketika laba-laba memasuki jangkauan mereka, maka belalang mengatasi stres akibat ketakutan predasi dengan beralih ke makanan yang lebih kaya karbohidrat. Menurut temuan para ilmuwan, hal ini agar membuat pengaturan gerak mereka lebih dinamis terhadap ekosistem yang mereka huni.
“Di bawah kondisi stres, belalang akan memilih makanan yang berbeda,” tutur Oswald Schmitz, rekan penulis makalah dan pakar ekologi di Universitas Yale.
Selain menghasilkan energi tinggi, karbohidrat juga membuat tubuh belalang dapat menghasilkan karbondioksida dengan mengorbankan nitrogen.
Jadi, ketika belalang mati, maka bangkainya akan terurai lebih lambat, sehingga menghasilkan tanah subur yang berkualitas tinggi dan memperlambat dekomposisi (pembusukan) tanaman yang tidak dimakan.
“Studi ini menemukan secercah cahaya baru mengenai pentingnya predator dalam ekosistem,” kata Saran Twombly, direktur program di National Science Foundation’s Division of Environmental Biology, yang mendanai penelitian.
“Sebuah penelitian yang cerdas menunjukkan bahwa sisi baik dari proses predasi tampaknya makin meluas, misalnya seperti mengubah makanan mangsa hingga nutrisi yang dihasilkan dari pembusukan tubuh mereka bagi kesuburan tanah.”
Mikroba dalam tanah memerlukan banyak nitrogen untuk menghasilkan enzim yang menguraikan bahan organik.
“Hanya membutuhkan sedikit perubahan dalam komposisi kimia dari biomassa hewan untuk secara mendasar mengubah berapa banyak jumlah karbondioksida dari kolam mikroba ini yang dilepaskan ke atmosfer ketika sedang menguraikan materi tanaman organik,” tutur Schmitz.
“Ini menunjukkan bahwa hewan dapat memiliki efek yang sangat besar pada keseimbangan karbon global, karena mereka mengubah cara bernapas dari mikroba pada bahan organik.”
Para peneliti menemukan bahwa tingkat dimana bahan organik dari daun yang membusuk meningkat antara 60-200 persen di kondisi bebas stres yang relatif terhadap kondisi stres. Hasil ini telah mereka anggap “tinggi.”
“Iklim dan kualitas sampah dianggap sebagai pengontrol utama pada dekomposisi (pembusukan) materi organik, namun kami menunjukkan bahwa predator di atas tanah dapat mengubah cara mikroba tanah untuk menguraikan bahan organik,” kata Mark Bradford, rekan penulis penelitian dan juga seorang ahli ekologi di Yale.
Schmitz menambahkan: “Ini berarti kita masih belum cukup memperhatikan bahwa ternyata hewan memiliki lebih dari apa yang tampak secara kasat mata, sebagai proses klasik yang penting dalam fungsi ekosistem.”
Para peneliti mengambil sampel tanah dari lapangan, menaruhnya dalam tabung reaksi, dan menaruh di atas sampel tersebut 2 bangkai belalang yang diperoleh baik dari lingkungan yang memiliki predator dan tanpa predator.
Mereka kemudian menaburkan bedak di atas tanah, dimana mikroba segera menguraikannya.
Ketika bangkai belalang telah sepenuhnya membusuk, para peneliti menambahkan sampah daun dan mengukur laju penguraian sampah daun.
Penelitian ini kemudian direplikasi di lapangan, yaitu di Hutan Yale Myers di timur laut Connecticut, AS.
“Ini adalah proses dua tahap dimana belalang digunakan untuk menyuburkan tanah, maka kita mengukur konsekuensi dari penyuburan itu,” kata Schmitz.
“Secara tradisional orang berpikir bahwa hewan tidak memiliki peran penting dalam daur ulang bahan organik, karena biomassa (energi terbarukan yang berasal dari tumbuhan dan hewan) mereka relatif kecil dibandingkan dengan tumbuhan,” ujar Schmitz.
“Namun tampaknya kita perlu lebih memperhatikan peran para hewan. Dalam era hilangnya keanekaragaman hayati kita seperti sekarang ini, kita telah kehilangan banyak predator dan herbivora besar dari ekosistem.” (National Science Foundation / osc)