Home Berita Nasional Berita Internasional Berita dan Budaya China Bisnis dan Ekonomi Kehidupan Kesehatan Iptek Entertainment Wisata dan Keluarga Serba Serbi Video Youmaker

Page : << 1 2 3 4 5 ... 59 >>

Share:   Lintas Berita     Facebook     Google     Digg     del.icio.us

 Cetak    Email    Komentar

Senin, 09 November 2009
LEDAKAN DIATAS PULAU BONE SETARA 3 BOM ATOM


Pada 30 Juni 1908, ledakan besar yang terjadi di Tunguska-Siberia-Rusia (oleh hantaman planet mini/komet) telah menghanguskan hampir 2.000 km2 hutan. (WIKIPEDIA)
Pada 30 Juni 1908, ledakan besar yang terjadi di Tunguska-Siberia-Rusia (oleh hantaman planet mini/komet) telah menghanguskan hampir 2.000 km2 hutan. (WIKIPEDIA)
(Epochtimes.co.id)

Probabilitas planet mini menubruk bumi, bukanlah sekedar plot dalam film layar lebar, sesuai siaran Metro TV yang ditayangkan situs You Tube, diduga sebuah planet mini pada 8 Oktober pagi meledak di angkasa Pulau Bone yang kekuatan ledakannya setara dengan 3 buah bom atom (Hiroshima).     

Sesuai gambar yang ditayangkan Metro TV terlihat di angkasa sebuah bola api yang menyilaukan mata dan terbalut oleh benda berbentuk awan yang kemudian diiringi ledakan dahsyat, sejumlah murid-murid SD di Kecamatan Bone terperanjat bahkan ada yang sampai menangis.

Warga Bone mengatakan kepada Metro TV bahwa mereka melihat sebuah bola api besar meluncur dari langit, kemudian terjadi ledakan hebat dan akhirnya meninggalkan seberkas kabut asap di langit. 

Majalah New Scientist berdasarkan laporan observasi NASA menyatakan, planet mini yang berdiameter 5 sampai 10 meter meledak di ketinggian 20 km di atas angkasa Sulawesi Selatan pada 8 Oktober lalu.  

Data observasi itu menunjukkan, planet mini tersebut meluncur dengan kecepatan 45.000 meter per jam, bersamaan itu bergesekan dengan atmosfer bumi, kemudian meledak lantaran suhu panas yang melonjak dan melepaskan energi sekitar 50.000 ton bom TNT, setara dengan kekuatan 3 buah bom atom yang dijatuhkan AS di Hiroshima-Jepang. 

NASA berpendapat, ini semestinya adalah ledakan planet mini terbesar selama ada pencatatan.

Selain itu, laporan ilmuwan Universitas Western Ontario-Kanada menunjukkan, suara ledakan planet mini itu dapat didengar dari stasiun pendeteksi yang terletak 15.000 km jauhnya.

Sejumlah kalangan ilmuwan beranggapan punahnya dinosaurus yang pernah merajai bumi pada zaman dahulu kala lantaran ada planet mini atau komet yang menubruk bumi dan menimbulkan ledakan. Ledakan planet mini di angkasa Indonesia kali ini sekali lagi telah menimbulkan keresahan para ilmuwan yang khawatir kejadian hantaman planet mini barangkali bisa terulang lagi, apalagi kalau diameternya mencapai 20 hingga 30 meter, pasti akan membawa akibat menghancurkan bagi bumi dan umat manusia.

Menurut laporan NASA, kejadian ledakan planet mini seperti di atas angkasa negara kita ini, kira-kira akan terjadi sekali dalam setiap 2 hingga 12 tahun.

Itulah mengapa AS sedang merundingkan dan meneliti sebuah perencanaan, dimana melalui stasiun pendeteksi planet kecil dan program penelitian pendaratan di atas planet mini dan lain-lain, diharapkan dapat menemukan solusi proteksi yang lebih baik bagi bumi kita, agar terhindar dari benturan planet kecil yang bisa berakibat fatal. (CNA/whs)



 
 


   Berita / Artikel Terkait :
  04-9-2010 08:12:10 Bahaya Saluran Akar Gigi (3) - Mikroorganisme Beracun
  04-9-2010 08:01:50 Pesona Warna Semarakan Festival Busana Rosemount - Sydney 2010
  04-9-2010 07:57:16 Jolie Minta Dukungan Bagi Pengungsi Bosnia
  04-9-2010 01:50:07 Suarakan Keadilan Kasus Radio Era Baru di DPR
  03-9-2010 15:35:52 Perdagangan Manusia Rezim China Dikritik

   Kembali ke atas
 
  03-9-2010 08:17:32   Surat Tertulis Drake Kenang Aaliyah
  02-9-2010 15:02:58   Toyota Tarik 1.13 Juta Corolla dan Matrix
  02-9-2010 14:57:22   Terowongan dan Makam Kuno di Reruntuhan Teotihuacan
  02-9-2010 08:15:21   Tumbuhan Penyembuh PMS
  02-9-2010 08:10:17   Susan Boyle Diejek Remaja
 
Epochtimes Indonesia e-paper
 
Radio Erabaru FM Livestreaming
 
NTDTV Live Streaming
 
 
 
 
   


  About Us | Redaksi | Pasang Iklan | Contact Us | e-Paper | Mobile | Radio | TV | Sitemap | RSS Feeds  
 
Bahasa :
 
 
Copyright 2008 - 2010 The Epoch Times Indonesia
Ketentuan Penggunaan | Disclaimer