(Epochtimes.co.id)Menlu AS, Hillary Clinton dalam tempo hanya 15 hari telah melintasi 3 benua besar, Eropa, Asia dan Afrika, serta tur 8 negara, 6 diantaranya terletak di Asia, dan 5 diantaranya adalah negara-negara tetangga RRT. Selama kunjungannya ke Asia yang terkesan “mengepung” PKT (karena tanpa berkunjung ke RRT), Hillary berulang kali menyampaikan komentar tentang keunggulan sistem demokrasi dan menjajal reaksi dari pejabat PKT akan hal ini. Dia telah membeberkan informasi penting bagi dunia luar.
Hillary memuji Mongolia sebagai Negara Demokrasi Asia, demikian pula Vietnam yang telah mengalami perubahan besar. Tanpa menyebut nama, ia secara tegas mengkritisi rezim komunis Tiongkok yang tidak demokratis: “Menolak reformasi, sepanjang hari membatasi warganya memperoleh gagasan dan informasi. Bila ada warga yang mengeluarkan pendapat, tak pelak akan dijebloskan ke dalam penjara, merebut hak warga dalam memilih pimpinan mereka, pengelolaan negara tanpa dilandasi dengan rasa tanggung jawab, penuh kebobrokan di dalam perkembangan ekonomi negara, dan kepentingan yang dihasilkan hanya untuk dirinya sendiri.”
Tidak nampak hal baru dari reaksi yang dilakukan oleh PKT (Partai Komunis Tiongkok) terhadap komentar tersebut, yang pertama: memblokir akun mikroblog pihak pejabat Konjen AS di Shanghai; ke-2: memublikasikan artikel yang menyerang AS dengan judul “Washington Seharusnya Menahan Diri dalam Didaktis Demokrasi Impulsif”.
Pada kenyataannya, reaksi pihak PKT terhadap pernyataan Hillary masih dianggap wajar oleh pihak media dan Departemen Propaganda PKT. Sedangkan beberapa waktu lalu yang disampaikan Hillary di hadapan publik Universitas Harvard lebih secara langsung menohok sikon realistik RRT saat ini.
Hillary mengatakan bahwa 20 tahun lagi RRT akan menjadi negara paling miskin di dunia dengan berdasarkan argumentasi sebagai berikut:
1. Ditilik dari situasi aplikasi keimigrasian AS, 90% para kerabat pejabat RRT dan 80% orang kaya RRT sudah mengajukan diri sebagai imigran ke luar negeri, atau setidaknya memiliki niatan untuk berimigrasi. Ini menggambarkan kelas penguasa dan kelas pemetik keuntungan dari sebuah negara telah kehilangan kepercayaannya terhadap negara mereka sendiri.
2. Orang-orang di RRT tidak memahami tanggung jawab dan kewajiban yang mereka emban sebagai individu sosial terhadap negara dan masyarakat, apalagi tanggung jawab dan kewajiban yang harus dilakukan terhadap masyarakat internasional. Pendidikan atau media propaganda yang diserap pada dasarnya selalu memusuhi atau mengutuk orang maupun negara lain. Dalam hal ini agar rakyat kehilangan penilaian yang rasional dan berimbang.
3. RRT merupakan salah satu negara menakutkan dari negara-negara minoritas di dunia yang tidak berketuhanan. Satu-satunya yang dimuliakan oleh segenap rakyat kelas atas maupun bawah hanyalah harta, tahta, dan egoisme. Negara besar yang tidak memiliki belas kasih tidak akan memperoleh respek dan kepercayaan dari masyarakat internasional.
4. Mayoritas masyarakat RRT selamanya tidak pernah mempelajari makna kehidupan yang layak dan terhormat. Bagi warga kebanyakan, memperoleh kekuasaan atau uang melimpah adalah segala-galanya di dalam kehidupan, menjadi simbol sebuah kesuksesan. Fenomena segenap jajaran yang korup, tak berakhlak, mengabaikan orang lain, sungguh kebobrokan moral yang tak ada duanya di dalam sejarah umat manusia.
5. Merusak lingkungan dan penjarahan terhadap sumber daya alam secara gila-gilaan.
Dengan status Hillary sebagai seorang Menlu Amerika Serikat, pernyataan di depan publik seperti itu tentu merupakan perwujudan posisi resmi dari Pemerintah AS terhadap rezim komunis Tiongkok.
Dari kritikan pedas tanpa tedeng aling-aling Hillary terhadap PKT yang dikombinasikan dengan serangkaian tindakan yang diambil oleh AS belakangan ini terhadap rezim PKT, dengan jelas terlihat bahwa masyarakat internasional, termasuk Pemerintah AS, telah kehilangan kesabaran yang dulunya mereka terapkan terhadap rezim PKT. Mereka kemungkinan sudah dengan jelas menyadari karakter PKT yang di dalam negerinya sendiri maupun di dunia internasional menginjak-injak HAM dan membahayakan perdamaian serta keamanan dunia yang sudah tak mampu lagi untuk diubah, fantasi terhadap perubahan dan perombakan PKT pada dasarnya telah buyar. Itulah sebabnya, terwujud dengan semakin lama semakin “mengeras” di dalam percaturan diplomasi internasional.
Tidak hanya itu. Di dalam negeri RRT beberapa tahun ini, sejumlah orang-orang Barat dari kedubes, konjen, media, dan yang mengerti bahasa mandarin telah membuka mikroblog di Tiongkok untuk mengungkap fakta dan kejadian sebenarnya. Meskipun seringkali diblokir, namun telah berperan positif. Sejumlah cendekiawan dari dalam sistem maupun di luar sistem pemerintahan, akademisi, dan sejumlah bintang tenar dari Daratan Tiongkok serta Hongkong-Taiwan, juga mengeluarkan suara kritis mereka terhadap sistem perpolitikan PKT.
Bersamaan itu, kasus menentang kezaliman dan perlindungan HAM yang terus menerus terjadi di berbagai daerah di RRT, dari teriakan para pelajar SMA di Shenfang-Sichuan (dalam kasus penolakan terhadap dibangunnya industri logam berat yang merusak lingkungan di daerah mereka): “Kami boleh gugur, kami adalah generasi 90-an!” Dari itu dapat terlihat kebangkitan spiritual warga Tiongkok.
Sejarah adalah sebuah cermin. Kepala Editor Sejarah Negeri Dinasti Qing (baca: jing / Mancu), dinasti di Tiongkok periode 1616 – 1912, Yun Yuding, mewariskan catatan harian pribadinya sebanyak 1,2 juta aksara mengenai kesaksiannya atas runtuhnya Dinasti Qing pada awal abad ke-20. Sesungguhnya kekacauan pada akhir Dinasti Qing tersebut tidaklah separah saat ini.
Ucapan Hillary saat berkeliling ke negara-negara Asia baru-baru ini telah menghembuskan sebuah informasi penting: Dari masyarakat internasional hingga internal dalam negeri Tiongkok sendiri, dari kelas sosial berbeda hingga warga Tiongkok biasa, mencampakkan sistem pemerintahan PKT pada hakikatnya sudah menjadi sebuah konsensus (kesepakatan yang disetujui bersama). Inilah situasi yang sudah sangat kuat, dan tren global yang sudah tak dapat dielakkan. Maka tak lama lagi, perubahan besar di RRT akan terjadi. (Xia Xiaoqiang / The Epoch Times / whs)