(Epochtimes.co.id)Simbol perjuangan demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi berkunjung ke Prancis pada 26-29 Juni lalu.
Prancis merupakan negara kunjungan terakhir dalam perjalanannya keliling Eropa semenjak dirinya terpilih sebagai anggota kongres Myanmar. Saat bertatap muka dengan PM Prancis pada 26 Juni lalu, Suu Kyi menyatakan bahwa perjalanan demokrasi Myanmar sangat berliku dan seharusnya dipercepat kelancarannya.
Surat kabar World Journal Prancis memberitakan, pada 26 Juni lalu Presiden Francois Hollande menyambut Suu Kyi dengan upacara kenegaraan layaknya menyambut pemimpin suatu negara, keduanya kemudian menggelar konferensi pers, dan Hollande menyatakan, “Di sini saya kembali meluruskan, dalam proses demokratisasi di Myanmar, Prancis akan mendukung segenap organisasi secara efektif. Prancis juga akan membantu Myanmar merampungkan jalannya menuju demokrasi dengan berbagai kriteria yang memungkinkan di bawah kepemimpinan PBB.”
Sementara Suu Kyi yang baru saja merayakan ulang tahunnya ke-67 dengan mengenakan busana tradisional Myanmar berwarna hijau muda dan menyematkan bunga kuning di rambutnya, mengenakan syal warna putih, tampil dengan penuh karisma dan senyum mengembang. Ia menyatakan, “Jalan (Myanmar) menuju demokrasi ini tidak semulus di Eropa, inilah jalan yang harus dilalui oleh negara saya, sangat terjal dan berliku, kita seharusnya sebisa mungkin membuatnya menjadi lebih lancar.”
Pada 27 Juni, Suu Kyi berkunjung ke pemerintah Kota Paris, dan menerima penghargaan “Warga Kehormatan Kota Paris” dari Walikota Paris, Bertrand Delanoe. Menurut Stasiun 1 Prancis, ketika itu pemerintah kota mengumpulkan banyak sekali warga Myanmar untuk menyambut Suu Kyi, dan Suu Kyi mengucapkan terima kasih dalam bahasa Prancis.
Suu Kyi berkata, “Saat saya masih mendekam di penjara pada 2009 saya sudah mendengar dukungan dari Paris kepada saya. Besarnya dukungan Kota Paris pada hal yang saya lakukan, membuat saya sangat terkejut dan gembira.” Suu Kyi pernah mendapat gelar “Warga Kehormatan Kota Paris” dari pemerintah Kota Paris pada 2004 dan 2009. Malam hari itu juga, Suu Kyi mengadakan dialog dengan Menlu Prancis, Laurent Fabius.
Suu Kyi sejak 1988 kembali ke Myanmar setelah menetap di Inggris untuk menjenguk ibunya yang sakit. Namun setelah itu karena tekanan Pemerintah Myanmar, ia tidak dapat kembali ke Eropa, dan dikenakan tahanan rumah selama 15 tahun. Namun itu sama sekali tidak mengurangi keteguhan hati dan rasa humornya. Kali ini setiba di Prancis, tempat kunjungan terakhirnya dalam perjalanannya keliling Eropa ia masih melontarkan gurauan, “Bagi saya, Prancis adalah Victor Hugo, semangat revolusi, dan sup bawang”.
Hal ini membuat orang kembali merasakan rasa humor dan kecerdasan Suu Kyi yang memancarkan optimisme, keteguhan, serta kepercayaan diri. Kata-kata ini merupakan ungkapan pujian Suu Kyi terhadap keunikan seni sastra, konsep demokrasi, dan juga masakan Prancis. (Deng Yunci / The Epoch Times / lie)