Home Berita Nasional Berita Internasional Berita dan Budaya China Bisnis dan Ekonomi Kehidupan Kesehatan Iptek Entertainment Wisata dan Keluarga Serba Serbi Video Youmaker

Percetakan dan Souvenir
Page : << 1 2 3 4 5 ... 97 >>

Share:   Lintas Berita     Facebook     Tweet     Google     Digg     del.icio.us

 Cetak    Email    Komentar

Rabu, 04 Juli 2012
MEMPERINGATI HARI ANTI PENYIKSAAN INTERNASIONAL - WAKIL KETUA PARLEMEN EROPA: RRT PALING PARAH


Edward McMillan-Scott, wakil ketua Parlemen Eropa dalam pidatonya di Hari Anti Penyiksaan Internasional melalui penayangan acara video “Fokus RRT” mengatakan, RRT selalu merupakan pelaku kekerasan paling parah yang ditujukan kepada rakyatnya sendiri, dan sebagian besar penderitanya tidak bersalah. (THE EPOCH TIMES)
Edward McMillan-Scott, wakil ketua Parlemen Eropa dalam pidatonya di Hari Anti Penyiksaan Internasional melalui penayangan acara video “Fokus RRT” mengatakan, RRT selalu merupakan pelaku kekerasan paling parah yang ditujukan kepada rakyatnya sendiri, dan sebagian besar penderitanya tidak bersalah. (THE EPOCH TIMES)
(Epochtimes.co.id)

26 Juni adalah Hari Anti Penyiksaan Internasional. Pada hari itu, Edward McMillan-Scott, wakil ketua Parlemen Eropa yang membidangi masalah HAM, dalam acara video “Fokus RRT” yang berhubungan dengan peringatan Hari Anti Penyiksaan Internasional telah menyampaikan pidato.

Sebelumnya ditayangkan pula sebuah film rekaman tentang penyingkapan penyiksaan yang dialami oleh praktisi Falun Gong dari Daratan Tiongkok. Dalam pidatonya, Scott mengatakan bahwa RRT selalu merupakan pelaku penyiksaan paling parah yang ditujukan kepada rakyatnya sendiri, dan korbannya sebagian besar tidak bersalah, mereka dihukum hanya karena kepercayaan dan keyakinan politik.

Dalam rapat itu Scott telah menayangkan sepotong video rekaman yang menceritakan seorang praktisi Falun Gong (aliran spiritual asal Tiongkok yang ditindas oleh Partai Komunis Tiongkok sejak 1999) dari Daratan Tiongkok Zhang Lianying yang mengalami penyiksaan hingga terancam jiwanya di kamp kerja paksa perempuan di Beijing. (http://www.youtube.com/watch?v=u1BFuI9EBnI&feature=youtu.be)

Zhang Lianying adalah seorang akuntan publik, mantan direktur sebuah departemen di Grup Guangda Beijing. Lantaran berlatih Falun Gong, dia ditangkap dan dianiaya. Setelah dibebaskan, dia mengirim surat dan data-data kepada Parlemen Eropa, yang secara detil mengungkap 50-80 persen cara penyiksaan dan pengaiayaan yang digunakan pada dirinya ketika berada dalam penjara dan kamp kerja paksa di RRT.

Mantan Komisaris Anti Penyiksaan PBB dan ahli hukum Austria, Dr Manfred Nowak beranggapan, kira-kira sebanyak 7-8 juta orang dalam kamp kerja paksa yang mengalami “cuci otak”, dimana 2 /3-nya adalah praktisi Falun Gong.

Zhang Lianying ketika menerima wawancara The Epoch Times mengatakan sangat berterima kasih kepada Scott dan semua orang yang baik hati, dan organisasi yang mendukung serta peduli terhadap Falun Gong.

Zhang mengatakan: ”Hingga kini, penyalahgunaan penyiksaan masih terus merajalela di RRT. Saya sangat sedih. PKT (Partai Komunis Tiongkok) tidak menghiraukan kutukan internasional dan terus melanjutkan perbuatan jahat. Dewasa ini rakyat Tiongkok tengah bangkit. Yang bersedia tampil ke depan publik secara terbuka mendukung Falun Gong seolah tak ada habisnya. Ini merupakan kehendak Tuhan.”

Zhang mengungkapkan bahwa dia bersama praktisi Falun Gong yang juga mengalami penyiksaan akan melakukan tuntutan bersama terhadap biang keladi penganiaya Falun Gong. Dewasa ini, bukti-bukti yang bersangkutan telah disampaikan kepada pengacara, satu diantaranya adalah kejahatan penyiksaan.

Mantan Presiden RRT, Jiang Zemin di satu sisi berjanji akan mengurangi kasus penyiksaan di RRT, dan meniru Hitler yang mengizinkan sebagian wartawan media arus utama di dunia untuk mengunjungi kamp kerja paksa yang “tampak beradab” untuk mengelabui dunia. Namun di sisi lain, kasus penyiksaan di RRT justru kian hari kian banyak, terutama penganiayaan terhadap masyarakat yang berlatih Falun Gong. Dan yang paling banyak menjadi korban adalah para perempuan setengah baya. Sungguh mengerikan. (Li Mingxi / The Epoch Times / tys)



 
 


   Berita / Artikel Terkait :
  22-5-2013 21:28:09 Menghilangkan Bopeng Bekas Jerawat
  22-5-2013 21:20:24 5 Anak Berbakat Indonesia Bertemu Lionel Messi di Doha
  21-5-2013 23:25:07 Bagaimana Temukan Kebahagiaan Menurut Dunia Ilmiah? Tidak Dapat Dicapai Melalui Material Melainkan Spiritual
  21-5-2013 23:21:41 Meskipun Ada Rintangan, Pasar Properti Kuba Terus Berdengung
  21-5-2013 23:18:55 Tradisi Hari Ibu dan Makna Pentingnya di Seluruh Dunia

   Kembali ke atas
 
 
Klik di sini untuk melihat Foto2 Produk Kami di Facebook
 
Epochtimes Indonesia e-paper
 
NTDTV Live Streaming
 
 
 
 
 
   


  About Us | Redaksi | Pasang Iklan | Contact Us | e-Paper | Mobile | Radio | TV | Sitemap | RSS Feeds  
 
Bahasa :
 
 
Copyright 2008 The Epoch Times Indonesia
Ketentuan Penggunaan | Disclaimer