(Epochtimes.co.id)Sejak tahun lalu, Piraten (Partai Bajak Laut) ibarat seekor kuda hitam terbesar di sepanjang sejarah yang menerjang masuk ke dalam kancah politik Jerman.
Berbagai reaksi bermuculan mulai dari kalangan politikus hingga awam: Ada yang bersorak gembira, ada yang tak acuh, ada yang berpesta pora, dan ada juga yang diam mengamati saja.
Jika diibaratkan di dalam cerita silat Tiongkok, Piraten ibarat sebuah “aliran” dengan jurus unik yang belum tentu memiliki ilmu tenaga dalam yang hebat, namun saat pertama kali muncul di dunia persilatan, Piraten telah mengeluarkan sebuah jurus tak terduga yang sempat mengejutkan sejumlah ketua berbagai “aliran” besar ortodoks lainnya, sehingga menarik perhatian seluruh dunia persilatan. Ia tampak seperti seorang bocah naif, yang hanya mengandalkan kenekatan belia, namun mereka tidak hanya menarik banyak anak seusianya ke bawah naungan benderanya, tetapi juga mendapat pujian dari sejumlah senior yang kemudian bersedia memberinya bekal berharga, yakni membantunya naik ke bahtera dan mengantarkan wajah baru yang telah membawa udara segar bagi dunia politik Jerman yang tengah menapaki perjalanan baru.
Tentu saja para “piraten” memiliki kelemahan, setelah pemilu Berlin, baik partai yang menang maupun kalah, masing-masing segera menggelar konferensi pers. Partai Piraten yang menjadi kuda hitam terbesar, justru datang terlambat di tengah penantian berbagai media massa, ternyata karena mereka sama sekali tidak tahu bagaimana caranya menggelar konferensi pers!
Gen “Van Gogh”
Dalam sebuah survei warga Jerman pada awal April lalu, dihasilkan sebuah angka yang sangat menarik. Para pemilih yang memilih parpol tertentu (Partai Hijau, Partai Sayap Kiri, Partai Sosial Demokrat, Partai Demokrat Liberal, Uni Demokrat Kristen CDU) adalah karena “mendukung pemikirannya”, hanya Partai Piraten yang justru sebaliknya, yakni 72% dari pemilih partai tersebut mendukungnya karena “merasa kecewa terhadap parpol lain”, sehingga berpaling mendukung Partai Piraten.
Setelah pembentukan parlemen rampung, saat pertama kali muncul di rapat legislatif federal, para “piraten” membuat heboh dengan penampilan “beda” mereka yang cukup memberikan inspirasi bagi para reporter untuk menulis berita selingan. Yang paling terkenal adalah piraten bernama Gerwald Claus-Brunner yang mengenakan busana terusan pekerja. “Seragam dinas rapat legislatif” Gerwald yang khas yakni baju terusan pekerja berwarna oranye ditambah syal kotak-kotak, sehingga terlihat sangat mencolok di tengah kerumunan anggota kongres yang berpakaian jas resmi.
Dibandingkan dengan para politikus “dewasa” yang kerap berdebat hanya karena tidak memakai dasi, di dalam gen para “piraten” memang tidak ada aturan seperti itu, bahkan bukan tidak mungkin mereka akan mengkritik rekan sejawat dari partai lain yang setiap hari mengenakan jas formal mereka, dengan pertanyaan: “Apa tidak capek?”
Toleransi Terhadap Anak
Piraten Claus-Brunner yang mengenakan baju terusan, menjadi bintang iklan dari perusahaan rental mobil Sixt. Di sudut kiri iklannya tampak foto anggota perlemen Berlin ini, dengan kepala terbungkus syal khas Palestina, dan mengenakan baju terusan warna biru, di bawah foto itu tertulis: “Sangat disambut baik, namun tidak ada yang tahu alasannya.” Sementara di sebelah kanan adalah foto seorang pria yang mengenakan kacamata pilot, dan memegang kemudi mobil, dengan senyum yang lebar, di bawahnya tertulis: “Sangat disambut baik, dan semua orang tahu alasannya.”
Banyak orang tidak tahu mengapa menyukai Partai Piraten, seperti halnya banyak yang tidak tahu mengapa terdapat anak-anak yang sangat disukai banyak orang tanpa sebab yang jelas. Jika seorang anak berusia 6 tahun berkata pada ayahnya: Saya ingin membelikan sebuah kapal pesiar yang besar untuk ayah, maka sang ayah pasti akan sangat senang, dan merasa anak itu sangat lugu, sehingga tidak akan menanyakan apakah si anak memiliki uang? Apakah akan dibayar secara kredit atau tunai? Akan tetapi jika seorang pemuda berusia 20 tahun yang mengatakan hal itu pada ayahnya, mungkin sang ayah akan berkata dengan nada tajam pada si pemuda: “Nak, carilah sebuah pekerjaan yang bisa memberimu makan kenyang terlebih dahulu!”
Namun justru dalam masalah uang, di sebuah acara dialog sebelum pemilu, calon bintang dari Partai Piraten Berlin telah melakukan suatu kesalahan fatal. Tentunya jika kesalahan tersebut dilakukan oleh calon dari parpol lain, maka setelah acara tersebut selesai sang calon pun sudah bisa istirahat dan melupakan pemilu tersebut karena pasti akan kalah. Namun karena kesalahan itu terjadi pada Partai Piraten sehingga justru tidak menjadi masalah bagi publik. Saat reporter bertanya pada “Piraten” muda tersebut, “Berapakan hutang Berlin saat ini?” Jawabnya sambil bertanya balik: “Berapa miliar?” Sang reporter pun memberitahunya, “6,3 triliun.” Anak muda itu pun tercengang seketika.
Intermeso ini seolah sama sekali tidak memengaruhi prestasi Partai Piraten dengan meraih hampir 9% suara pada pemilu, bahkan sebaliknya ada juga yang mengatakan ketulusan para piraten. Kecuali bagi seorang “bocah”, siapa lagi yang bisa diperlakukan dengan penuh lapang dada seperti ini? Rakyat pun menoleransi parpol yang hanya berusia 5 tahun itu persis seperti seorang anak usia 5 tahun.
Jika tidak percaya, lihat saja pemilu Berlin berikutnya. Saat para “ketua piraten” masih juga belum tahu berapa banyak hutang Berlin, masih akan ada orang yang tersenyum simpul sambil menepuk kepala mereka, dan membiarkan mereka untuk berlatih satu periode parlemen lagi. Jika sampai periode berikutnya para “piraten” muda yang menerobos masuk ke dunia politik ini, benar-benar telah menjadi dewasa setelah teruji dengan masalah krisis Euro, penyusutan sektor energi surya, penempatan pasukan di luar negeri, limbah nuklir, dan lain-lain, apakah mereka masih dapat mempertahankan sudut pandang mereka yang sarat dengan “paham idealisme” ini?
Mungkin saat itu Partai Piraten akan mampu bermetamorfosis secara sempurna dari kepompong menjadi kupu-kupu. Jika mereka berhasil mempertahankan stamina dan bertambah dewasa, mungkin saat itu akan muncul sebuah partai politik baru lagi, yang akan menggemparkan kancah politik Jerman, bahkan dunia, dengan “jurus pamungkas” baru. Siapa tahu? Partai Piraten yang beberapa tahun lalu saja tidak diperhitungkan, kini telah mencuat. (Wu Yin / The Epoch Times / sud)