(Epochtimes.co.id)Presiden AS, Barack Obama telah tiba di Korsel, untuk mengunjungi “garis demarkasi militer” pada sisi Korsel dari zona demiliterisasi antar-Korea.
Senin lalu (19/3), Obama bekerja sama dengan kepala negara dari 50 negara dan menghadiri KTT Keamanan Nuklir, yang diselenggarakan di Seoul. Obama bertemu dengan para pemimpin Tiongkok dan Rusia untuk membahas masalah nuklir Korut dan Iran. Zona demiliterisasi dari “garis demarkasi militer” yang dibentuk setelah berakhirnya Perang Korea pada 1953, dengan lebar wilayah sekitar 4 km itu, telah membelah Korea menjadi dua bagian Utara dan Selatan. Dewasa ini, kedua belah pihak di wilayah itu masing-masing dijaga ketat dengan kesiap-siagaan penuh.
Belum lama ini, Kim Jong-un beberapa kali mengunjungi pangkalan militer Korea Utara di garis depan dekat “garis demarkasi militer”. Setelah Korea Utara mengumumkan program peluncuran satelit, dunia luar berspekulasi. Ada yang berpendapat bahwa Korut bukannya meluncurkan satelit, melainkan mereka sedang menguji rudal jarak jauh. Menurut laporan beberapa media di Korea Selatan dan Jepang, pada hari Obama mengunjungi “garis demarkasi militer”, kendaraan peluncur Korut telah dikirim ke pangkalan peluncuran di dermaga timur. Menurut media Yomiuri Shimbun Jepang, pemerintah Jepang paling cepat pada 30 Maret ini akan mengadakan pertemuan keamanan dan akan mengumumkan “Perintah persiapan untuk penyebaran sistem intersepsi satelit Korea Utara” serta akan menembak jatuh roket Korea Utara jika melintas di atas wilayah Jepang.
Sedangkan menurut pendapat publik Korsel, tindakan peluncuran “satelit” Korea Utara membuat AS merasa dilecehkan, karena Korut baru saja mencapai kesepakatan dengan AS untuk mengakhiri kegiatan pengayaan uranium dan untuk sementara waktu menunda senjata nuklir dan uji coba rudal jarak jauh dengan imbalan bantuan pangan AS. Dapat dikatakan, rencana peluncuran satelit Korea Utara, telah “berkontribusi” menggerakkan Obama berkunjung ke garis demarkasi militer kali ini. Kemudian, Obama dan Presiden Korea Selatan, Lee Myung-bak mengadakan pertemuan di Cheong Wa Dae. Kedua belah pihak sepakat, rencana peluncuran roket jarak jauh Korea Utara telah melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB dan perjanjian kesepakatan antara Korsel dan AS, sehingga ini merupakan tindakan provokasi serta ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional.
Dalam hal ini, Korsel dan AS akan terus memperkuat posisi pertahanan bersama, dan sekaligus akan bekerja sama untuk menangani setiap ancaman dan provokasi Korea Utara.
Hu Jintao tiba di Korea Selatan
Hu Jintao yang tiba di Korea Selatan pada 26 Maret untuk berpartisipasi dalam KTT Keamanan Nuklir, mengadakan pertemuan dengan para pemimpin negara-negara BRIC (Brasil, Rusia, India dan Tiongkok), dan berkunjung ke Kamboja. Menurut sebuah sumber di Beijing, menjelang kunjungan Hu Jintao ke Korsel, demi mencegah hal yang tidak diinginkan selama kunjungan luar negeri Hu, pada saat yang sama (26 Maret) 3.300 orang kepercayaan Zhou Yongkang dalam Komite Hukum dan Politik dan sistem Angkatan Polisi Bersenjata telah dialihkan ke pelatihan Beijing. Sebelum itu, pada 20 Maret, pejabat tingkat di atas divisi Komite Politik dan Hukum Beijing telah dikumpulkan di dekat Beijing untuk di “briefing”, namun sebenarnya adalah untuk diawasi dan ditahan secara terselubung.
Sesuai berita yang dilansir kantor berita Zhong Xin, pada sore hari 26 Maret lalu, sesi kedua dari KTT Keamanan Nuklir, yang diadakan di Seoul, Korea Selatan, Presiden Hu Jintao bertemu dengan Presiden AS Barack Obama di hotel tempat ia tinggal. Ini adalah pertemuan ke-11 mereka. Obama mengawali dengan bertanya, “Bagaimana keadaan rumah baru-baru ini?” Ini telah menimbulkan pembicaraan hangat di jejaring sosial, karena dirasa mengandung makna mendalam. Dengan pertanyaan tersebut Barack Obama memulai pembicaraan dan Hu Jintao menjawab “sangat baik” serta balik bertanya: “Baik-baikkah keadaan istri dan anak-anak Anda?” Kemudian kedua belah pihak mengadakan pertemuan sekitar satu setengah jam.
Lantaran bulan lalu mantan wakil walikota Chongqing, Wang Lijun membelot ke Konsulat AS di Kota Chengdu dan menyerahkan informasi rahasia tentang korupsi petinggi PKT serta pertikaian internal dan lainnya kepada pihak AS, sehingga menyebabkan perpecahan besar antar pimpinan elit partai. Spekulasi bahwa informasi yang kini di tangan AS itu kemungkinan dapat menjadi senjata pamungkas terhadap PKT, dan melalui kasus Wang Lijun untuk pertama kalinya pertarungan tingkat tinggi dalam internal elit PKT yang selama ini tertutup rapat dari dunia luar, telah terungkap secara gamblang di hadapan dunia.
Kim Jong-un Mencengkeram Kekuasaan Manfaatkan Peri-ngatan Usia 1 Abad sang Kakek
Pada 25 Maret lalu adalah 100 hari meninggalnya mantan diktator Korea Utara Kim Jong Il, yang juga secara resmi menandakan berakhirnya era Kim Jong Il. Fondasi yang belum kokoh dari Kim Jong-un sekali lagi bersiap-siap menyelenggarakan “Festival Matahari” untuk sang kakek, Kim Il Sung di hari ulang tahunnya yang ke-100 secara besar-besaran dan akan memproklamasikan Korut memasuki “Tahun Perdana Negara Besar nan Kuat”.
Dilaporkan bahwa Korut akan mengadakan kongres besar partai pada pertengahan April mendatang, dan mengumumkan rencana untuk meluncurkan “ Satelit ke-3 Bintang Cemerlang” pada pertengahan April. Baru-baru ini, tersiar Kim Jong-un meniru jejak sang ayah menerapkan pemerintahan bergaya tangan besi. Pada awal tahun lalu diadakan pembersihan berdarah terhadap level pimpinan inti, ia telah mengeksekusi mati 2 perwira senior militer pada masa berkabung dengan mengatas-namakan Kim Jong Il, ayahnya.
Menurut analisis dunia luar, belakangan ini Kim Jong-un Korut mengumumkan peluncuran roket jarak jauh, secara internal bermakna melanjutkan pembersihan berdarah dan penindasan, dan dengan mengandalkan “prestasi” yang relatif besar untuk menunjukkan legitimasinya sebagai pemimpin Korea Utara kepada luar negeri. (Wen Long/The Epoch Times/whs)