(Epochtimes.co.id)Budaya pop Jepang mengilhami jutaan orang di seluruh dunia, dan acara Anime Expo di Los Angeles, AS, adalah layaknya sebuah “tanah suci” bagi para penggemar J-pop di Amerika Utara, dimana rata-rata dihadiri lebih dari 125.000 pengunjung setiap tahunnya. Anime Expo 2012 baru-baru ini diadakan mulai 29 Juni - 2 Juli, menandai tahun ke-21 penyelenggaraannya yang sukses.
Anime Expo selalu dipenuhi dengan anime (film animasi Jepang), manga (komik Jepang), musik, permainan video, dan setumpuk aksesoris. Tetapi bagi para fans barang-barang itu jauh lebih berharga daripada membeli mainan atau benda seni yang lain. Bagi mereka itu adalah mengenai perjumpaan dengan orang lain yang memiliki hobi yang sama, membangun hubungan, dan ajang bagi ekspresi diri.
Seorang gadis muda bernama Brittany mengatakan kepada The Epoch Times: "Anime Expo adalah lingkungan favorit saya. Kebanyakan penggemar anime selalu menyendiri di rumah, tapi di sini, semua orang terlihat sangat manis. Banyak orang mengatakan kepada saya, Kau begitu mengagumkan, sangat cantik. Banyak hal positif di tempat ini."
Fans (orang yang biasanya malu atau reserved) memakai kostum dan mengubah diri menjadi alter ego, mendapatkan kepercayaan diri dan karisma. Ketika semua orang datang bersama-sama menciptakan sebuah tempat yang sangat menyenangkan, kreatif, dan positif.
Seperti ribuan orang lainnya, Brittany juga membuat kostumnya sendiri. "Saya butuh waktu 3 minggu," katanya. "Saya merasa harus menghadiri acara ini. Saya datang karena ingin berdandan dan bergaul di lobi, untuk bertemu orang lain yang memiliki hobi yang sama," tambahnya. Ketika sedang tidak mengobrol dengan teman, Brittany berpose untuk bagi para kru berita dan penonton lainnya.
Beberapa tokoh industri anime turut membagikan ilmu dan semangat untuk menginspirasi para peserta yang kebanyakan berasal dari generasi muda berumur belasan atau awal 20-an.
Danny Choo, pendiri dan direktur Culture Japan, pemimpin yang diakui dalam bisnis budaya pop Jepang, memberikan presentasi kepada lebih dari 1.000 orang tentang pengalaman dalam menemukan jati diri, gairah, dan keberanian mengambil risiko untuk mencapainya. Kepada The Epoch Times ia berujar, "Secara rata-rata saya pikir mereka masih muda dan membutuhkan nasihat. Saya kini berumur 40 tahun, dan saya telah tersesat selama bertahun-tahun. Saya ingin membantu mereka melalui proses tersebut."
Anime Memiliki Jiwa
Budaya pop Jepang memiliki banyak arti bagi para penggemarnya di seluruh dunia, dan hal itu sangat mudah untuk dipahami alasannya. Anime dan manga mampu “berbicara” dengan para remaja Amerika dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh komik Barat, dan seringkali berfokus pada kisah perjuangan anak laki-laki dan perempuan muda di sekolah, untuk menemukan diri mereka di tengah cinta segitiga yang rumit dan tantangan pribadi.
Anime dan manga bercerita secara langsung kepada pemirsa atau pembacanya, tanpa banyak bertele-tele. Meskipun dibalut dengan berbagai genre seperti humor, aksi, maupun berbagai hal aneh seperti kontes masak dan membuat kue, namun inti dari setiap cerita adalah perjuangan seorang individu untuk mengimprovisasi diri mereka di tengah kesulitan yang menghadang.
Seorang pengunjung lainnya, Ben, menghadiri acara Anime Expo untuk pertama kalinya. "Saya telah menyukai anime sejak kecil," katanya. "Saya sekarang berumur 20 tahun dan saya telah menonton Naruto sejak masih berumur 6 tahun." Naruto adalah salah satu serial anime paling panjang, yang berkisah tentang seorang ninja muda dengan mimpi besarnya untuk menjadi pemimpin desa ninja. Ben pun berdandan sebagai Naruto modern, dengan gaya street fashion.
"Setiap orang memiliki Batman atau Superman mereka," katanya. "Namun pahlawan saya adalah Naruto. Dia memiliki kekurangan dan kelemahan, tetapi selalu berusaha untuk menjadi lebih baik. Dari vitalitas dan kesetiaannya. Saya banyak melihat hal yang saya suka dalam dirinya dan saya juga berusaha menerapkannya ke dalam kepribadian saya. Dia tidak pernah menyerah dan dia teramat norak! Tapi saya tidak akan begitu bodoh menirunya mentah-mentah, tapi kadang saya juga suka bertingkah aneh," ujarnya sambil tertawa.
"Di dunia nyata, mungkin saya bukan siapa-siapa. Tapi di sini (Anime Expo) saya seperti Dewa. Setiap orang meminta berfoto bersama saya. Dalam dua hari saya sudah memiliki 178 gambar yang diambil."
Di luar acara Anime Expo, Ben bekerja sebagai pencuci jendela di bangunan bertingkat, dan tidak ada yang memedulikan dirinya yang sedang bekerja menempuh bahaya. Tapi di Anime Expo, dia menerima perhatian dan umpan balik positif. Dia pun berjanji, "Saya pasti akan datang kembali tahun depan!"
.jpg) |
| Sekelompok penggemar anime mengenakan kostum Appleseed, yang pada mulanya merupakan manga (komik Jepang), yang akhirnya diadaptasi untuk seri anime dan film bisokop. (DEREK PADULA/THE EPOCH TIMES) |
|
Suara Sang Pahlawan
Alasan besar di balik kemampuan anime untuk menginspirasi adalah karena kinerja luar biasa dari suara para aktor di balik mikrofon. Dunia akting suara menjadi semakin trendi dan dikejar sebagai karier, dan aktor suara, meskipun tidak pernah terlihat wajahnya, hanya terdengar suaranya saja, namun kini telah termasuk dalam jajaran selebriti dengan banyak penggemar.
Selebriti-selebriti pengisi suara ini khusus terbang dari Jepang untuk menyajikan sesi konferensi bersama para penggemarnya. Aktor pengisi suara veteran, Steve Blum, yang dikenal karena suaranya sebagai Spike di Cowboy Bebop dan sebagai suara untuk TOM, narator robot "Toonami" produksi Cartoon Network, mengadakan sesi konferensi yang berlangsung selama beberapa jam. Para fans ingin bertemu Steve karena ia menyuarakan karakter yang bermakna bagi mereka.
Demikian juga, Ryo Horikawa, aktor suara dari Vegeta dari seri Dragon Ball, yang memberikan tanda tangan bagi The Epoch Times dan mengatakan selama wawancara bahwa sebenarnya secara fisik dia memang terlihat lebih tua, namun karena dia seorang aktor suara, ia senantiasa masih merasa sangat muda di dalam hati, seolah-olah masih berumur 20-an.
Para fans juga memiliki kesempatan untuk menyuarakan aksi dialog bagi anime favorit mereka, dalam acara Inside the Voice Actors Studio, dimana para bakat muda bisa merasakan pengalaman bagaimana menjadi aktor suara dan rekaman dialog dalam anime. Mela Lee memberikan kata-kata yang menginspirasi. Ia bercerita kepada seorang pemuda yang berpakaian sebagai Goku (tokoh utama dari seri Dragon Ball): "Sebagai aktor, selain kita bisa menjadi pahlawan di layar, juga dapat merembes ke dalam kehidupan kita yang sebenarnya. Saya tahu bahwa Anda juga dapat menjadi pahlawan. Pahlawan dalam kehidupan Anda sendiri. Anda telah memilikinya di dalam hati."
Selanjutnya, aktor suara Kyle Hebert menjadi host dari acara tahunan Masquerade Ball, dimana para fans – tampil dengan kostum lengkap – menari bersama pasangan yang dipilih dan mungkin saja akan menemukan cintanya di sini.
Jadi selain film perdana, karaoke, dan kafe, Anda juga akan menemukan inspirasi dan makna budaya pop Jepang. Dan bagi para penggemar, itulah yang mereka rasakan dari acara Anime Expo.
Informasi lebih lanjut tentang anime dan manga dapat ditemukan dalam buku Derek Padula The Dao of Dragon Ball dan di websitenya http://thedaoofdragonball.com. (Derek Padula / The Epoch Times / zzr)