Home Berita Nasional Berita Internasional Berita dan Budaya China Bisnis dan Ekonomi Kehidupan Kesehatan Iptek Entertainment Wisata dan Keluarga Serba Serbi Video Youmaker

Percetakan dan Souvenir
Page : << 1 2 3 4 5 ... 57 >>

Share:   Lintas Berita     Facebook     Tweet     Google     Digg     del.icio.us

 Cetak    Email    Komentar

Sabtu, 21 Juli 2012
BANK SENTRAL TAK BERDAYA LEPAS DARI LINGKARAN SETAN


Foto yang diambil tahun lalu, menampakkan sikap mantan Gubernur Bank Sentral Eropa Jean-Claude Trichet selama konferensi pers. Trichet juga merupakan anggota dewan direksi untuk Bank for International Settlements (BIS). BIS sangat kritis terhadap bank sentral dalam laporan baru-baru ini, dalam upaya untuk mencegah krisis keuangan lainnya. (AFP/GETTY IMAGES)
Foto yang diambil tahun lalu, menampakkan sikap mantan Gubernur Bank Sentral Eropa Jean-Claude Trichet selama konferensi pers. Trichet juga merupakan anggota dewan direksi untuk Bank for International Settlements (BIS). BIS sangat kritis terhadap bank sentral dalam laporan baru-baru ini, dalam upaya untuk mencegah krisis keuangan lainnya. (AFP/GETTY IMAGES)
(Epochtimes.co.id)

Pasar ekonomi negara maju dan berkembang di dunia terus terjebak dalam lingkaran setan, yang dimulai dengan krisis keuangan tahun 2008. Informasi yang diberikan oleh Laporan Tahunan ke-82 Bank for International Settlements (BIS) baru-baru ini tidak hanya sangat mengkhawatirkan, tetapi sekaligus menakutkan.

“Harapan untuk penyelesaian yang cepat terhadap ketegangan ekonomi global akan terus menjadi mengecewakan... Lima tahun sejak pecahnya krisis keuangan, dan perekonomian global masih tidak seimbang, tampaknya menjadi lebih parah sehingga sepertinya kelemahan ini berinteraksi terus memperkuat satu sama lain,” ungkap laporan BIS.

Sebagai bankir dari bank sentral di seluruh dunia, tujuan BIS adalah untuk menjaga ekonomi dari bencana keuangan. Untuk membantu bank-bank sentral di seluruh dunia, BIS mengetokan palu dalam laporannya dalam upaya untuk mencegah krisis keuangan lainnya.

Lingkaran setan tidak bisa disalahkan pada satu kelompok tertentu, tetapi pada tiga hal: pemerintah, sektor keuangan, dan konsumen.

Stabilitas keuangan sebuah pemerintahan dalam risiko dikarenakan anggaran tidak seimbang, hutang tidak berkelanjutan, dan hilangnya bintang peringkat kredit. Ketergantungan sektor keuangan pada bantuan pemerintah, ketidakmampuan untuk menerima kerugian dari risiko yang berlebihan, keengganan untuk masuk ke praktek pinjaman yang wajar, dan ketidakmampuan untuk melepaskan harapan keuntungan yang tinggi telah menjadi hambatan utama ke arah pemulihan. Terakhir, konsumen dan perusahaan harus berhemat hutang mereka dan kembali ke kebiasaan pengeluaran yang wajar.

“Ekonomi global belum mengatasi warisan krisis keuangan untuk mencapai keseimbangan, pertumbuhan yang mandiri. Dengan kata lain, lingkaran setan ini menghalangi transisi untuk kedua pasar ekonomi baik itu yang maju maupun yang sedang berkembang,” kata BIS dalam laporannya.

Kemajuan Terhenti, Pemulihan Terhalang

“Bulan-bulan awal 2011 tampaknya menawarkan awal dari sebuah pemulihan yang mandiri, sebuah janji yang ternyata menjadi fajar palsu. Pola ini tampaknya akan terulang kembali pada 2012,” menurut laporan BIS.

BIS berpendapat bahwa meskipun negara-negara berkembang membuat beberapa kemajuan dalam menangani masalah fiskal secara keseluruhan (terutama moneter) tahun lalu dan awal tahun ini, mereka menabrak langsung halangan tak diduga yang sama selama dua tahun, dan kemudian penurunan spiral mulai terjadi lagi.

“Secara keseluruhan, momentum ekonomi di perekonomian negara maju terlalu lemah untuk menghasilkan kekuatan, pemulihan yang mandiri,” menurut laporan BIS.

BIS menyimpulkan bahwa di negara maju tertentu, yang tidak disebutkan tetapi kemungkinan besar termasuk Amerika Serikat, kelemahan masih melekat dan pemulihan berkelanjutan terhenti.

“Hambatan pada konsumsi swasta berlangsung lama. Pengangguran tetap tinggi, atau bahkan meningkat lebih lanjut. Harga properti jatuh dan tingginya tingkat hutang terus membebani neraca anggaran rumah tangga,” kata laporan BIS. Semua kekhawatiran tersebut dianggap sebagai hambatan besar menuju pemulihan.

Pada 2011, pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,9 persen, sebuah penurunan tajam jika dibandingkan dengan 5,3 persen pada 2010. Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang dianggap sebagai faktor utama dalam perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

“Pemulihan global mulai goyah pada kuartal kedua tahun [2011]. Pada saat itu, indikator aktivitas bisnis melemah secara signifikan di Amerika Serikat, diikuti oleh mereka para EMEs [Ekonomi Pasar yang sedang Berkembang]; dan pada paruh kedua tahun 2011, mereka memburuk relatif tajam di Eropa,” kata laporan BIS.

Harga komoditas, sudah tinggi, belum turun ke tingkat yang dapat diterima sejak 2011, mengingat meningkatnya konsumsi di pasar negara berkembang, berkurangnya hasil pertanian akibat cuaca buruk, dan harga minyak lebih tinggi karena pergolakan politik di daerah tertentu, meredam pemulihan perkembangan pasar ekonomi.

Dengan tingginya angka pengangguran di Amerika Serikat dan pasar negara berkembang lainnya, pendapatan yang dapat disisihkan turun secara signifikan, dan daya beli yang diperlukan untuk perbaikan ekonomi berkelanjutan tidak terwujud.

Untuk menanggapi faktor eksternal ini, bank sentral di sejumlah pasar negara berkembang meningkatkan pasokan uang melalui metode yang disebut pelonggaran kuantitatif, yang meliputi pengurangan tingkat suku bunga atau mendekati nol dan pembelian obligasi pemerintah atau perusahaan dari lembaga keuangan.

BIS menunjukkan bahwa metode tersebut di atas, digunakan selama masa pertumbuhan yang lambat dan pengangguran yang tinggi, mungkin merupakan sebuah reaksi umpan balik. “Namun, terdapat risiko pertumbuhan yang terlalu membebani kebijakan moneter. Dengan sendirinya, kebijakan moneter tidak dapat mudah memecahkan solvabilitas yang mendasar atau masalah struktural yang lebih dalam. Hal ini dapat memakan waktu,” kata laporan BIS.

Pemerintah Turunkan Bintang Peringkat Kredit

“Krisis menyebabkan kerusakan lebih lanjut yang signifikan dalam kesinambungan fiskal dengan meningkatkan defisit fiskal dan hutang. Akibatnya, pasar keuangan dan lembaga pemeringkat kredit mengambil pandangan yang lebih kritis atas pengakuan risiko kredit. Hutang dan defisit pemerintah yang telah ditoleransi sebelum krisis tidak lagi dianggap berkelanjutan,” lapor BIS.

Pengakuan peringkat kredit telah diturunkan oleh lembaga kredit utama selama tahun lalu. Pada Agustus 2011, Standard & Poor’s (S&P) menurunkan peringkat Amerika Serikat dari AAA (terkemuka) menjadi AA + (sangat baik). Pada bulan Mei, Fitch Ratings memangkas peringkat jangka-panjang mata uang asing Jepang dari AA menjadi A + dengan sentimen negatif.

Sebuah penurunan atas pengakuan peringkat kredit membuatnya lebih sukar bagi pemerintah untuk meminjam di pasar keuangan. Adanya penurunan peringkat menunjukkan bahwa risiko bagi lembaga keuangan pemberi pinjaman dana kepada pemerintah telah meningkat. Juga, risiko investor kehilangan uang ketika berinvestasi di obligasi pemerintah menjadi lebih besar.

“Melemahnya pengakuan kelayakan kredit memberi pengaruh merugikan terhadap stabilitas keuangan, pelaksanaan dan kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter, fungsi pasar keuangan dan biaya pinjaman sektor swasta,” saran laporan BIS.

Ini diulang di seluruh laporan BIS bahwa pemerintah harus mengurangi hutang ke tingkat yang berkelanjutan sebelum ekonomi dapat kembali ke kondisi yang sehat. Ini bukan usulan yang membuat pemerintah harus menggigit apel asam dan mengambil tindakan tegas, tapi usulannya tetap bagaimana mengatasi dilema dan datang dengan solusi yang bisa diterapkan.

BIS tidak menyebutkan batas waktu akhir mengenai pengembalian ke ekonomi yang sehat, tapi semakin lama defisit anggaran tetap melilit, semakin lama waktu yang diperlukan untuk pemulihan ekonomi.

“Dalam perekonomian negara yang paling maju, anggaran fiskal tidak termasuk pembayaran bunga akan membutuhkan 20 tahun berturut-turut surplus melebihi 2% dari PDB—mulai sekarang—hanya untuk membawa rasio utang-terhadap-PDB kembali ke tingkat sebelumkrisis,” menurut BIS.

Perhitungan dalam Pembuatan

“Mengapa tidak menyingkirkan saja bank sentral dan menempatkan kebijakan moneter di tangan pasar? Pindah ke sistem yang dibangun pada kekuatan uang/ekonomi akan menjamin kredit hanya dibuat, di mana itu benar-benar diperlukan untuk tujuan produktif,” saran sebuah artikel di situs Daily Reckoning.

Artikel ini tidak membahas laporan BIS, mencapai sarannya dari perspektif yang sebenarnya tidak relevan untuk didiskusikan. Artikel demi artikel dialamatkan untuk menyingkirkan bank sentral berdasarkan banyaknya perspektif dan masalah yang berbeda, dengan masing-masing menambahkan titik lain untuk pembahasan.

Sebuah artikel di situs TED menyatakan, “The Nobel Laureate di bidang ekonomi, Milton Friedman, mengatakan ini tentang bank sentral: ‘Satu masalah ekonomi yang belum terpecahkan pada saat ini adalah bagaimana menyingkirkan Federal Reserve.’ Federal Reserve Bank adalah bank sentral AS. Ini adalah sebuah bank swasta.”

Artikel ini berpendapat bahwa, bank sentral dikarenakan berwenang untuk mencetak uang, tidak harus transparan dan tidak di bawah kontrol pemerintah.

Untuk membuat penekanannya, penulis menyarankan, “Dengan demikian kita memiliki dua sistem independen—sistem politik, yang dipilih oleh rakyat—dan sistem ekonomi yang dipimpin oleh bank sentral, yang bersifat independen, di mana orang tidak memiliki kontrol apapun.”  (Heide B. Malhotra / The Epoch Times / tet)



 
 


   Berita / Artikel Terkait :
  21-5-2013 23:07:08 Bangkitnya Ekonomi AS - Temukan Teknologi Baru Pengeboran Minyak Bumi yang Akan Pangkas Impor Minyak
  17-5-2013 21:17:11 Replika Seni Dunhuang Dipamerkan di New York
  10-5-2013 09:25:36 Ekonom: Pencetakan Uang Massal Bahayakan Ekonomi RRT
  08-5-2013 11:12:37 Berdalih Wisata ke Turki - Pemuda Eropa Berbondong-bondong Terjun ke Perang Suriah
  07-5-2013 22:26:23 Ruang Untuk Membaca, Ruang Untuk Perubahan

   Kembali ke atas
 
 
Klik di sini untuk melihat Foto2 Produk Kami di Facebook
 
Epochtimes Indonesia e-paper
 
NTDTV Live Streaming
 
 
 
 
 
   


  About Us | Redaksi | Pasang Iklan | Contact Us | e-Paper | Mobile | Radio | TV | Sitemap | RSS Feeds  
 
Bahasa :
 
 
Copyright 2008 The Epoch Times Indonesia
Ketentuan Penggunaan | Disclaimer