(Epochtimes.co.id)Saham Eropa dan AS jatuh seiring para investor menunggu keluarnya laporan kinerja
Bank of England (BoE) membeli aset-aset, dan Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank Rakyat Tiongkok keduanya memangkas suku bunga mereka, dalam upaya keras untuk menguatkan ekonomi masing-masing, begitu juga dengan ekonomi global.
Seluruh tiga langkah tersebut terjadi dalam waktu satu jam pada Kamis (5/7), meskipun mereka tidak berkoordinasi satu sama lain, kata bank-bank ini.
ECB menurunkan suku bunga ke rekor terendah 0,75 persen dan suku bunga deposito menjadi nol, sementara pihak otoritas bank sentral Tiongkok memotong suku bunga mereka sebesar 0,31 persen menjadi 6 persen karena khawatir ekonomi mereka akan menyusut cepat. BoE mengumumkan rencana mereka untuk menyuntikan dana cair ke dalam pasar dengan membeli aset-aset seharga 50 miliar poundsterling (AS$ 77,65 miliar).
BoE terlihat geram.“Meski peningkatan ini membuat Dewan Perwakilan Eropa yang terbaru tetap khawatir mengenai terlilit utang dan persaingan di beberapa kawasan ekonomi Eropa, dan hal itu semakin membebani rasa percaya diri sini (di Inggris),” kata BoE dalam sebuah pernyataannya.
Banyak pakar yang masih tidak yakin bahwa langkah-langkah BoE ini akan efektif, dengan berpikir bahwa bank sentral telah menyuntikkan 325 miliar poundsterling dalam bentuk sodoran uang langsung, tetapi ekonomi Inggris tetap mengalami kesulitan hari ini.
Aksi terkoordinasi yang terakhir untuk menstimulus ekonomi global muncul setelah krisis keuangan global pada 2008. Selama berlangsungnya konferensi berita (5/7), presiden ECB, Mario Draghi, mengatakan bahwa kondisi ekonomi semakin memburuk di zona euro selama tiga bulan terakhir ini, tetapi menambahkan kata “pastinya tidak” ketika ditanya apakah kondisi sekarang ini dapat dibandingkan dengan tahun 2008 lalu.
IMF awal minggu ini mendesak Federal Reserve (Fed) untuk ikut memberikan stimulus kepada perekonomian AS dalam langkah lain untuk menenangkan situasi. Fed tetap bungkam, tetapi laporan angka pengangguran pada Jumat (6/7) akan memaksanya turun tangan jika ada kendala yang jauh dari harapan.
Di Eropa, pasar saham mengalami penurunan besar-besaran, dengan Frankfurt DAX turun sebesar 0,45 persen dan Paris CAC turun sebesar 1,2 persen. London FTSE 100 adalah satu-satunya yang mengalami kenaikan, meskipun kecil, dengan kenaikan sebesar 8 poin, atau 0,1 persen.
Bubarkan Euro?
Sebuah ide untuk membubarkan zona euro dengan baik, memenangkan Wofson Economic Prize pada Kamis (5/7), khususnya sebuah karya tulis yang diusung oleh ekonom Roger Bootle of Capital Economics.
Rencana Bootle, yang berjudul Leaving the Euro, a Practical Guide (Tinggalkan Euro, Sebuah Bimbingan Praktis), menjabarkan bagaimana sebuah negara akan keluar dari zona euro sambil membatasi kekacauan yang terjadi terhadap gaji, valuasi mata uang, dan inflasi.
Rencana ini memungkinkan sebuah negara untuk mengeluarkan mata uang baru, satu berbanding satu untuk mata uang euro, yang secara cepat mengumumkan sebuah program yang ketat dalam mengatur inflasi, memastikan tarif fiskal, dan masalah inflasi yang terhubung dengan obligasi pemerintah dalam menyeimbangkan anggaran.
Rencana ini mungkin memperoleh hasilnya, jika lingkungan sementara ini berlangsung lama. Mata uang euro jatuh ke titik terendah terhadap dollar AS dalam waktu sebulan (5/7), setelah keputusan penurunan suku bunga ECB ini. Ini menandakan penurunan yang kedua kalinya dalam sekian hari bagi mata uang tunggal 17 negara itu.
Saham AS Anjlok
Saham AS turun (5/7), dengan Dow Jones Industrial Average jatuh sebesar 47 poin, atau sekitar 0,4 persen. S&P 500 Index turun 6 poin, atau sebesar 0, 5 persen. Nasdaq Composite Index ditutup flat (datar) pada hari itu.
Data ADP (sebuah perusahaan alihdaya di AS yang melaporkan angka pengangguran) mengindikasikan bahwa sektor swasta AS bertambah 176.000 pekerjaan untuk bulan lalu (5/7), peningkatan sebesar 40.000 lebih pada Mei. Pengajuan jaminan pengangguran mengalami penurunan pada minggu lalu menjadi 374.000 pengajuan. Informasi ini gagal untuk memperoleh segala rasa optimisme seiring para investor menjual saham mereka dan lebih memilih untuk menunggu berita hari Jumat (6/7).
Laporan angka pengangguran resmi untuk bulan Juni akan dikeluarkan, tetapi segala berita yang baik akan menjadi pisau bermata dua seperti Fed yang kemungkinan akan terus memberikan stimulus ekonomi dan perekenomian seharusnya memperlihatkan pertumbuhan kinerja yang solid. (Franklin Yu / The Epoch Times / ltv)