Home Berita Nasional Berita Internasional Berita dan Budaya China Bisnis dan Ekonomi Kehidupan Kesehatan Iptek Entertainment Wisata dan Keluarga Serba Serbi Video Youmaker

Percetakan dan Souvenir
Page : << 1 2 3 4 5 ... 57 >>

Share:   Lintas Berita     Facebook     Tweet     Google     Digg     del.icio.us

 Cetak    Email    Komentar

Minggu, 08 Juli 2012
RIM Q1 JAUH LEBIH BURUK DARI PERKIRAAN PESIMISTIS SEBELUMNYA


Research in Motion (RIM) mengeluarkan laporan triwulanan yang suram pada 28 Juni lalu, desakan menutup penjualan saham terus berlanjut usai jam perdagangan. (GETTY IMAGES)
Research in Motion (RIM) mengeluarkan laporan triwulanan yang suram pada 28 Juni lalu, desakan menutup penjualan saham terus berlanjut usai jam perdagangan. (GETTY IMAGES)
(Epochtimes.co.id)

Perusahaan RIM, pembuat ponsel pintar BlackBerry yang berbasis di Waterloo, Kanada, pada 28 Juni lalu mengeluarkan laporan triwulanan pertamanya yang berakhir pada 2 Juni lalu.

Dan beritanya tidaklah menggembirakan. RIM menyatakan kerugian bersih sebesar $AS 18 juta, atau 99 sen per saham; kerugian bersih biasa sebesar $ 192 juta, atau 37 sen per saham. Ini jauh lebih buruk dari prediksi pesimis sebagian besar analis.

Pendapatan sebesar $AS 2,8 miliar, turun 33 persen dibanding dengan kuartal sebelumnya yang sebesar $AS 4,2 miliar. Diperkirakan 7,8 juta ponsel pintar BlackBerry dan 260.000 komputer tablet PlayBook diluncurkan selama kuartal tersebut.

“Hasil triwulan pertama menggambarkan tantangan pasar yang telah saya uraikan sejak perjanjian saya sebagai CEO pada akhir Januari lalu,” kata Thorsten Heins, Presiden dan CEO.

Heins melaporkan bahwa dia “tidak puas” dengan hasil ini, dan akan “bekerja secara lebih agresif” untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, termasuk mengatur kembali sumber daya dan fokus-fokus pada area yang menawarkan kesempatan lebih besar pada perusahaan.

Sebagai bagian dari usaha untuk memangkas biaya setidaknya $ 1 miliar pada akhir tahun fiskal ini, RIM akan mengurangi 5.000 tenaga kerja dari 16.500 karyawannya.

Untuk meredam suasana hati lebih lanjut, RIM mengumumkan, akan menunda peluncuran BlackBerry-10 ponsel pintar yang menjadi andalan masa depan perusahaan-hingga kuartal pertama tahun 2013, karena bertentangan dengan pernyataan sebelumnya akan meluncurkan BlackBerry-10 pada akhir 2012.

RIM mengatakan, meskipun tim perangkat lunaknya telah membuat kemajuan besar pada fitur kunci dari platform, mengintegrasikan fitur ini bersama dengan volume besar kode mereka adalah mengambil lebih banyak waktu dari yang diharapkan.

“Tim pengembangan RIM selalu fokus pada jaminan kualitas dan kehandalan platform, dan saya tidak akan menyetujui pengiriman produk sebelum siap,” kata Heins. “Saya yakin BlackBerry-10 pertama akan memberikan sensasi baru bagi pengguna generasi ponsel pintar berikutnya.”

Perusahaan membubuhkan beberapa kabar baik dalam laporannya, menyebutkan pertumbuhan berkelanjutan app bank dan basis pelanggan secara keseluruhan. Heins bersumpah memengaruhi 78 juta pelanggan untuk memanfaatkan RIM sehubungan dengan peluncuran mendatang BlackBerry-10.

Namun tampaknya investor tidak terkesan, karena harga saham RIM di NASDAQ turun menjadi $ 7,86 selama usai jam perdagangan, Kamis (28/6), jauh di bawah penutupan pada hari Rabu, yaitu $ 9,18.  (Yue Pang / The Epoch Times)



 
 


   Berita / Artikel Terkait :
  21-5-2013 23:07:08 Bangkitnya Ekonomi AS - Temukan Teknologi Baru Pengeboran Minyak Bumi yang Akan Pangkas Impor Minyak
  10-5-2013 09:25:36 Ekonom: Pencetakan Uang Massal Bahayakan Ekonomi RRT
  24-4-2013 21:31:17 Mengenang Thatcher: Gandeng Reagan Dorong Ekonomi Bebas, Dobrak Kubu Komunis
  11-4-2013 15:16:39 SPC Mobile Hadirkan Varian Smartphone dan Phablet
  07-4-2013 14:14:13 18 Orang Siswa Terima Beasiswa Penuh Dalam Spirit of Giving

   Kembali ke atas
 
 
Klik di sini untuk melihat Foto2 Produk Kami di Facebook
 
Epochtimes Indonesia e-paper
 
NTDTV Live Streaming
 
 
 
 
 
   


  About Us | Redaksi | Pasang Iklan | Contact Us | e-Paper | Mobile | Radio | TV | Sitemap | RSS Feeds  
 
Bahasa :
 
 
Copyright 2008 The Epoch Times Indonesia
Ketentuan Penggunaan | Disclaimer