Home Berita Nasional Berita Internasional Berita dan Budaya China Bisnis dan Ekonomi Kehidupan Kesehatan Iptek Entertainment Wisata dan Keluarga Serba Serbi Video Youmaker

Percetakan dan Souvenir
Page : << 1 2 3 4 5 ... 87 >>

Share:   Lintas Berita     Facebook     Tweet     Google     Digg     del.icio.us

 Cetak    Email    Komentar

Minggu, 19 Agustus 2012
FENGSHUI PERNIKAHAN KELUARGA BESAR XI JINPING


Istri Xi Jinping, Peng Liyuan. (INTERNET)
Istri Xi Jinping, Peng Liyuan. (INTERNET)
(Epochtimes.co.id)

Dilihat dari sejarah keluarga Xi Jinping (calon kuat suksesor presiden RRT Hu Jintao), pernikahan Xi sangat mirip dengan bagian krusial dari pernikahan ayahnya Xi Zhongxun (mantan menteri propaganda pusat PKT), yaitu fengshui pernikahan mereka mengalami 2 kali penyesuaian, sehingga hasilnya adalah kehadiran istri (kedua) memberikan sumbangsih menjayakan suami dengan kemuliaan, kebahagiaan dan kedudukan.

Ibu Xi Jinping bernama Qixin (dibaca: ji sin) berlogat Bejing asli. Meski berusia 88 tahun, jalan pikirannya masih jernih, dengan gerak-gerik lincah dan anggun, merupakan wanita berbakat yang jarang ditemui di kalangan para istri pejabat. Bergabung ke dalam keluarga Xi, dari permukaan nampaknya mengandalkan pemilihan yang tepat, sesungguhnya tak lain sudah menjadi suratan takdir, Xi Zhongxun dikemudian hari dapat terhindar dari bencana besar memang diperlukan bantuan dari orang yang mulia.

Pernikahan pertama ayah Xi dengan Hao Mingzhu, seorang revolusioner senior yang tidak berpendidikan, melahirkan 2 putri dan 1 putra, yang putra bernama Xi Zhengning, meninggal pada November 1998 karena serangan jantung.

Pada 28 April 1944, ayah Xi yang kala itu berusia 31 menikah dengan Qixin (20) di sebuah gua (rumah tradisional daerah pegunungan tandus di barat laut Tiongkok banyak terbuat dari gua) di pekarangan belakang Komite Landreform daerah Suide, Provinsi Shaanxi. Qixin melahirkan 2 putra dan 2 putri.

Saat Revolusi Kebudayaan, Ayah Xi diturunkan jabatannya dari menteri menjadi wakil kepala pabrik alat pertambangan di Kota Luoyang, dan pernah diganyang habis-habisan oleh Tentara Merah (murid sekolah semasa Revolusi Kebudayaan yang disalah-gunakan Mao Zedong untuk menjatuhkan lawan-lawan politiknya).

Atas usaha Qixin, ia dipindahkan dan dilindungi di garnisun Kota Beijing, dengan demikian terhindar dari malapetaka besar Revolusi Kebudayaan. Qi berada di sekolah kader ketika berlangsung Revolusi Kebudayaan, juga telah membantu pendidikan anak-anaknya dengan lancar, dari sini terlihat kemampuan Qi Xin yang melampaui orang kebanyakan.

Latar belakang perceraian Xi Jinping

Istri pertama Xi Jinping adalah Ke Lingling, putri bungsu mantan duta besar RRT untuk Inggris, Ke Hua. Setelah Xi lulus dari Universitas Qinghua, Beijing, ketika dikirim ke Komite Militer CC PKT menjabat sebagai sekretaris pada awal tahun 80-an, ia menikahi Ke Lingling, namun hanya bertahan 2-3 tahun, karena sifat dan kebiasaan hidup mereka sangat berbeda, maka setelah Ke kembali ke Inggris, Xi tetap menolak ke Inggris, sehingga akhirnya mereka berdua bercerai tanpa anak.

Berdasarkan informasi, setelah Xi dan Ke bercerai, Xi turun lapangan ke Desa Liangjiahe Provinsi Hebei menempa diri di lapisan petani. Menurut sumber berita tersebut, jelas ini adalah inisiatifnya sendiri, ia memang ingin memulainya dari bawah, menghindari cibiran orang bahwa keberhasilannya berkat pengaruh jabatan ayahnya.

Pada 1986, Peng Liyuan diperkenalkan dengan Xi yang waktu itu menjabat wawali Xiamen, Peng seorang penyanyi lagu rakyat dari kelompok militer, kelahiran Kota Yuncheng Provinsi Shandong, seorang pamannya tinggal di Taiwan, paman yang lainnya juga tinggal di Taiwan dan lulusan Akademi Militer Whampoa, sehingga ayahnya pernah dicap sebagai golongan kanan dan reaksioner. Pengalaman hidup Peng mirip dengan Qixin, ibunda Xi Jinping, ayah Qixin setelah RRT berdiri dicap sebagai “jenderal pemberontak”.

Peng Liyuan merupakan magister vokal nasional di RRT otodidak pertama, memiliki cukup banyak rekaman (piringan) emas, adalah vokalis berbobot RRT. Ketika kali pertama menemui Xi, Peng sengaja mengenakan celana militer besar, ingin menguji apakah Xi seorang yang hanya mengutamakan penampilan saja. terduga setelah mengobrol mendapatkan kesan yang sangat baik terhadap keturunan veteran PKT ini, maka selanjutnya hubungan mereka berdua semakin akrab.

Pada mulanya orang tua Peng tidak begitu setuju putrinya berhubungan dengan keturunan kader senior PKT, khawatir putrinya akan mengalami penderitaan, namun kedua insan tersebut akhirnya berhasil menerobos berbagai rintangan, dan tidak sampai setahun berkenalan, pada Agustus 1988 mereka berdua menikah. Anak pertama mereka, Xi Mingze lahir pada 1993, dan baru-baru ini dikirim melanjutkan studi di Universitas Harvard AS. Nyonya Xi sekarang adalah ketua grup Kesenian Departemen Politik Umum, Direktur Artistik, berpangkat Mayor Jenderal (sipil), dia rendah hati dan stabil, hampir tidak pernah dilanda opini negatif.

Setelah mempersunting Peng, jabatan Xi meroket, hingga sekarang ditetapkan sebagai pemimpin penerus generasi ke-5 RRT. Pasangan suami-istri tersebut masing-masing memiliki dunianya sendiri yang luas.

Pada 2010, Peng pernah berpidato di depan Kongres CPPCC (Chinese People’s Political Consultative Committee), dia menyuarakan dengan lantang harus mempertahankan kepercayaan dan kearifan lokal, dia mengomentari karya modern Tiongkok yang sangat berpengaruh dan memiliki reputasi internasional, semuanya berakar dari tengah bumi dan kebudayaan Tiongkok yang mendalam serta merupakan inovasi setelah menyerap intisari kebudayaan nasional. Dalam hal tersebut dia saling mengisi dengan pemikiran konvensional dari kekuatan supranatural aliran Buddha yang dipercayai oleh Xi Jinping.

7 tahun menimba pengalaman dari kehidupan rakyat jelata

Sesungguhnya selain pengaruh dari perkawinannya, ideologi konservatif Xi yang nampaknya sulit dimengerti oleh dunia luar, justru merupakan hasil yang tak terelakkan dari pengalaman menghayati kebudayaan daerah ketika dikirim ke desa selama 7 tahun. Coba bayangkan, di pedesaan yang jauh dari carut marut dunia politik, ketika menyaksikan suatu hal yang melampaui realitas, seberapa besar perubahan pandangan Xi akan mengalami perubahan seberapa besar, mungkin ini justru merupakan berkah, sebuah pembersihan rohani yang tak terlupakan oleh Xi.

Tidak heran, lebih dari 10 pemuda yang bersama-sama kesana, dalam tempo satu tahun semua telah pergi, hanya Xi yang bertahan selama 7 tahun, saat itu Xi berusia 16 tahun, hingga umur 23 tahun ia baru masuk universitas, itu merupakan pengaturan lanjutan yang merupakan modal politik yang ia perlukan di panggung resmi kelak.

Januari 1969, Xi yang belum genap 16 tahun tiba di Desa Liang-jiahe, Provinsi Hebei. Dia bersama petani, di malam hari tidur di atas ranjang batu bata, memikul tinja (untuk pupuk), mengangkut batubara, membendung air membuat waduk dan menikmati roti keras Mandou.

Tak sampai setahun, muda-mudi intelek yang bersama-sama turun lapangan ke Desa Liangjiahe hanya tinggal Xi seorang, rakyat juga benar-benar memercayai si pemuda ini, setiap malam mereka datang bergantian berbincang-bincang. Jelas bukan doktrin politik, bagi seorang pemuda yang belum genap 20 tahun, apa yang paling menarik baginya? Xi tentu tidak menulisnya dengan jelas. Akan tetapi ia mengatakan telah memahami “apa yang disebut realitis” dan “apa yang disebut massa”, sebenarnya itu adalah kisah hidup nyata yang dianjurkan dengan nada tinggi oleh istrinya - Peng Liyuan sebagai “Kebudayaan lokal”. Patut diduga, gagasan “memercayai kekuatan supranatural aliran Buddha” oleh Xi ini, benar-benar merupakan sebuah universitas alami yang dapat mempelajari apa yang disebut “realita” itu.

Kehidupan di Desa Lingjiahe bagi Xi Jinping memiliki arti yang mendalam, sekelompok orang itu telah mengubah pandangan dunia Xi, juga membuatnya menjadi tokoh yang mendapatkan gempuran paling dahsyat secara psikologis pemerintahan, yang melalui fenomena langit telah diberi peringatan baru-baru ini. (The Epoch Times / tys)



 
 


   Berita / Artikel Terkait :
  15-5-2013 21:12:43 Dosen Harvard: RRT dan Rusia Tak Paham Arti Soft Power
  11-5-2013 20:29:11 Tahun 1999 Kedubes RRT di Yugoslavia Dibom, Intrik Apa yang Dimainkan Jiang?
  10-5-2013 09:25:36 Ekonom: Pencetakan Uang Massal Bahayakan Ekonomi RRT
  09-5-2013 18:06:32 Bencana Alam Adalah Vonis Sang Pencipta Terhadap Penguasa - Makna di Balik Gempa Lushan, RRT
  08-5-2013 11:09:41 Biang Keladi 2 Kali Gempa Sichuan Adalah Zhou Yongkang - Mantan Sekprov Sichuan, RRT, yang Dituding Paksakan Proyek Dam

   Kembali ke atas
 
 
Klik di sini untuk melihat Foto2 Produk Kami di Facebook
 
Epochtimes Indonesia e-paper
 
NTDTV Live Streaming
 
 
 
 
 
   


  About Us | Redaksi | Pasang Iklan | Contact Us | e-Paper | Mobile | Radio | TV | Sitemap | RSS Feeds  
 
Bahasa :
 
 
Copyright 2008 The Epoch Times Indonesia
Ketentuan Penggunaan | Disclaimer