|
Page : << 1 2 3 4 5 ...
87 >>
Share:
Lintas Berita Facebook Tweet
Google Digg del.icio.us
Cetak Email
Komentar
Minggu, 12 Agustus 2012
WEN INSPEKSI ANTISIPASI BANJIR, PERINGATKAN BANJIR BEIJING
.jpg) |
| Meskipun pihak pemerintah telah meralat jumlah korban tewas akibat hujan badai di Beijing mencapai 77 orang, namun jumlah korban tewas sesungguhnya masih belum dapat dipastikan. Dari 9 anggota Komisi Tetap PKT hingga sat ini belum ada seorang pun yang menyatakan sikap atas bencana tersebut, termasuk PM Wen Jiabao yang selama ini selalu memainkan peran sebagai "penyelamat". Korban bencana di Beijing merasa sakit hati karena hal ini, dan merasa partai komunis tidak bisa diandalkan. (AFP) |
|
(Epochtimes.co.id)Di tengah suramnya situasi antisipasi banjir, PM Wen Jiabao melakukan inspeksi antisipasi banjir bandang dan badai di Sungai Kuning dan Yangtze. Dalam inspeksi tersebut, Wen “menekankan”, banyak kota tidak memperhatikan sistem antisipasi banjir dan penyaluran air perkotaan, dan harus merasakan pelajaran yang mendalam karenanya. Hal ini oleh kalangan luar dianggap sebagai kritik tidak langsung Wen terhadap Guo Jinlong (mantan pejabat sementara walikota Beijing).
Selama lebih dari 10 tahun faksi Jiang Zemin menguasai Beijing, awal Juli ini Liu Qi yang termasuk faksi tersebut baru saja menyerahkan jabatan Sekkota Beijing. Setelah Beijing dilanda hujan badai 21 Juli lalu, Guo Jinlong (dari faksi Hu/ Wen) pun terdesak di ujung tanduk. 9 anggota Komisi Tetap PKT sampai saat ini belum ada satu pun yang tampil menyatakan sikap. Para pengamat menganalisa, saat ini Wen Jiabao mengkritik Beijing dari daerah lain, berarti membenarkan “banjir di Beijing berdampak besar”.
Menurut media resmi PKT, di tengah inspeksi tersebut, Wen secara khusus menekankan, saat ini banyak kota yang tidak memperhatikan infrastruktur penanggulangan banjir dan pembangunan jaringan pembuangan air bawah tanah. Dan harus menyerap pelajaran ini untuk kemudian membangun dan memperbaiki sistem anti-banjir dan penyaluran air untuk meningkatkan kemampuan penanggulangan banjir di perkotaan secara menyeluruh.
Pertanda “banjir di Beijing berdampak besar”
Setelah dilanda hujan badai 21 Juli lalu di Beijing, banyak korban luka dan meninggal serta kerugian harta benda. Ada analisa menyebutkan, dalam inspeksinya ke Sungai Kuning dan Yangtze untuk mengawasi pekerjaan antisipasi banjir, Wen menekankan masalah antisipasi banjir di perkotaan, serta menuntut agar dilakukan tindakan antisipasi yang konkrit, ini merupakan kritik tidak langsung terhadap Beijing.
Seorang pengamat mengkritik di internet: para petinggi tidak bersuara apalagi menampakkan diri menanggapi bencana banjir di Beijing, hanya mengeluarkan pernyataan secara tidak langsung. Sepertinya banjir di Beijing memang berdampak besar!
Setelah 21 Juli, Guo Jinlong mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pejabat walikota Beijing. Namun hingga 26 Juli, dari 9 anggota Komisi Tetap Politbiro PKT (pimpinan kolektif tertinggi dalam struktur pemerintahan PKT), tidak ada satu pun yang mengeluarkan pernyataan sikap terhadap korban tewas, bahkan PM Wen Jiabao yang tidak pernah absen dari lokasi bencana pun hingga saat ini masih bungkam, hal ini menarik perhatian dan dugaan kalangan luar. Ada pandangan beranggapan, Guo Jinlong belum lama menerima jabatan Sekkota Beijing dari tangan Liu Qi, dengan Guo menjadi kambing hitam atas bencana ini sepertinya agak berlebihan, ini juga mungkin alasan baik Guo Jinlong maupun para petinggi PKT hingga saat ini belum menyatakan sikap.
Hingga 26 Juli (5 hari setelah bencana) lalu surat kabar People’s Daily baru menyebutkan “karena adanya instruksi dari Kementerian Dalam Negeri”, Li Liguo selaku Menteri Urusan Sipil memimpin tim penanggulangan bencana yang terdiri dari 12 kementerian negara, untuk berkumpul di lokasi banjir yakni wilayah Fangshan, Kota Beijing guna melihat secara langsung kondisi bencana.
Ada berita menyebutkan, kali ini Wen tidak menampakkan diri karena tidak ingin menanggung beban ini seorang diri, dan menolak berbagi tanggung jawab dengan anggota komisi tetap lainnya. Pada 10 Juli 2004, saat rata-rata curah hujan Beijing hanya 23 milimeter, ketika hujan badai tidak berhenti pada hari berikutnya yakni 11 Juli, Wen melakukan inspeksi di lokasi untuk memahami keadaan korban banjir dan para anggota penyelamat. Saat itu Wen telah menekankan, “agar meninjau kembali pembangunan infrastruktur kota Beijing, untuk membangun ibukota yang lebih baik.”
Korupsi faksi Jiang di Beijing terungkap
Sebuah hujan badai telah membuat Beijing juga seluruh dataran Tiongkok terungkap, rakyat melihat dengan jelas sebuah kota metropolitan kelas internasional seperti Beijing tidak lebih dari sebuah proyek ampas tahu (kualitas rendah) raksasa. Suatu pertanyaan “mengapa Beijing berhasil melangsungkan Olimpiade, tapi justru tak mampu membendung hujan badai” pun muncul di benak.
Selama belasan tahun tangan kanan Jiang yakni Zhou Yongkang dan Liu Qi menguasai Beijing, sebenarnya kota tersebut berada di dalam kekuasaan satu orang yakni Zhou Yongkang. Hujan deras ini pun menyingkap fakta korupsi besarbesaran di balik semua proyek prestisius kota Beijing yang dibangun memakan waktu bertahun-tahun lamanya.
Konspirasi antara Liu Qi yang meneruskan jabatan Jia Qinglin, juga melibatkan Zhou Yongkang dan mantan wakil presiden Zeng Qinghong dan lain-lain, angka korupsi yang dilakukan kerabat mereka di Beijing sungguh menakutkan. Bencana hujan badai 21 Juli lalu yang menewaskan banyak orang, selain merupakan bencana alam, juga adalah akibat dari ulah manusia.
Guo Jinlong yang dianggap sebagai antek Hu Jintao mengundurkan diri dari jabatan walikota Beijing, dan menuai kritik terang-terangan dari media partai, hal ini sempat membuat Hu Jintao serba salah, apalagi selama belasan tahun tanpa berhasil menguasai Beijing, yang selama ini dikuasai oleh Jiang Zemin dan Zhou Yongkang selaku kepala Komite Politik Hukum dan kepala Kantor-610 yang merupakan “pusat kekuasaan kedua”.
Setelah Liu Qi lengser pada 4 Juli lalu, Hu baru saja menguasai Beijing, belum sempat lagi Xi Jinping (calon kuat pengganti Hu Jintao pada Kongres PKT ke-18 akhir tahun ini) dan rekan-rekan mengambil alih, Beijing telah dilanda hujan badai dahsyat, membuat Hu Jintao harus menanggung malu atas Zhou Yongkang yang berkuasa sebelumnya. (Fang Xiao / The Epoch Times / sud)
|
|
|
|
Berita / Artikel Terkait :
Kembali ke atas
|
|
|
|