Home Berita Nasional Berita Internasional Berita dan Budaya China Bisnis dan Ekonomi Kehidupan Kesehatan Iptek Entertainment Wisata dan Keluarga Serba Serbi Video Youmaker

Percetakan dan Souvenir
Page : << 1 2 3 4 5 ... 87 >>

Share:   Lintas Berita     Facebook     Tweet     Google     Digg     del.icio.us

 Cetak    Email    Komentar

Jumat, 27 Juli 2012
RAHASIA ABADI PKT: KEPRIBADIAN MAO ZEDONG (2-TAMAT)


Mao Zedong adalah ikon PKT, dan mempengaruhi PKT hingga sekarang, menyangkal Mao berarti juga menyangkal partai komunis, setiap pemimpin PKT terdahulu selalu berusaha melindungi Mao, tujuannya adalah melindungi partai komunis, serta melindungi kepentingan mereka sendiri. Foto: Mao (ke 3 dari kiri) bersama PM Zhou Enlai, Lin Biao (calon pengganti Mao kala itu) dan Jiang Qing (istri Mao) pada zaman Revolusi Kebudayaan. (AFP/GETTY IMAGES)
Mao Zedong adalah ikon PKT, dan mempengaruhi PKT hingga sekarang, menyangkal Mao berarti juga menyangkal partai komunis, setiap pemimpin PKT terdahulu selalu berusaha melindungi Mao, tujuannya adalah melindungi partai komunis, serta melindungi kepentingan mereka sendiri. Foto: Mao (ke 3 dari kiri) bersama PM Zhou Enlai, Lin Biao (calon pengganti Mao kala itu) dan Jiang Qing (istri Mao) pada zaman Revolusi Kebudayaan. (AFP/GETTY IMAGES)
(Epochtimes.co.id)

Untuk menentang dan memusnahkan Soviet, Mao tidak segan-segan melancarkan Revolusi Kebudayaan yang berdarah, dengan maksud menciduk “Khruschev Tiongkok” yakni presiden Liu Shaoqi dan kawan-kawan, saat mereka dicuci otak, seluruh warga RRT pun ikut jadi korbannya, teror merah, isak tangis dimana-mana, ekonomi hancur, mayat bergelimpangan. Seperti pernyataan Cao Cao (155-220, penguasa Negara Wei di zaman Samkok): “Lebih baik aku mengkhianati dunia, daripada dunia mengkhianatiku”, begitu jugalah “hati hitam” seorang Mao.

Mao Zedong (dibaca: mau cetung) menyatakan dirinya tidak percaya Tuhan, seorang ateis. Tapi dalam hidupnya ia percaya takhayul dengan meminta Ciam Si (metode peramalan di klenteng) untuk memutuskan tindakannya. Pada 1949, sebelum merebut ibukota, Mao melakukan Ciam Si di Gunung Wutai.

Menurut penuturan, berkat Ciam Si ini Mao memutuskan saat penyerbuan ke ibukota (9 September) dan pengaturan pertahanan. Menurut petunjuk orang pintar, Mao memberi nama pasukan pengawal pribadinya 8341 (makna tersembunyinya, Mao ternyata kelak benar-benar hidup sampai usia 83 tahun dan berkuasa selama 41 tahun).

Tak lama sebelum meletusnya Revolusi Kebudayaan, Mao pergi lagi meminta Ciam Si di Vihara Ling Yin dan mendapat Ciam Si tingkat atas yang mengatakan: kewibawaan tak terbendung. Atas dasar itulah Mao melancarkan Revolusi Kebudayaan.

Mao Zedong menyebut dirinya tidak takut apa pun, tidak takut pada langit dan bumi, juga tidak takut setan maupun dewa, dijuluki si nyali besar. Faktanya tidak demikian, walau media PKT mengkultuskan citra dirinya sebagai seorang tokoh yang agung. Menurut penuturan sejumlah mantan orang dekatnya, sekitar setahun sebelum meninggal, setiap hari Mao selalu meratapi dirinya dan bersimbah air mata. Setiap teringat malaikat ajal akan segera tiba, serasa neraka sudah di depan mata, ekspresinya sangat mengenaskan dan ketakutan.

Mantan dokter pribadinya, Li Zhiyuan, mencatat: Saat terakhir kali Mao tersadar dari koma, kalimat terakhir yang diucapkan adalah: Dokter Li, masih adakah cara lain? Dokter Li menjawab: kami akan memikirkan segala cara. Seketika itu juga di wajah Mao terlihat rona memerah, lalu dalam sekejap berikutnya, grafik di alat elektrokardiografi (ECG) berubah menjadi garis lurus, Mao pun meninggal.

Keadaan ini menandakan, menjelang ajalnya, Mao pun hanya seorang manusia biasa, orang yang dijuluki si “matahari merah” yang memiliki “lapang dada mampu menampung warga dunia” itu, sebelum ajalnya tiba, mana pernah terpikirkan akan rakyatnya, tanah airnya, dunia, apalagi memikirkan ratusan ribu korban gempa tewas Tangshan yang baru saja terjadi sebulan sebelumnya. Sesaat sebelum dewa ajal menjemputnya, yang dipikirkan Mao hanya dirinya sendiri, memikirkan nasib dirinya yang sudah di ambang kematian. Nasib seorang diktator penyiksa rakyat hanya begitu-begitu saja.

Mao Zedong yang mahir dalam pengendalian strategi, sebelum ajal sempat memainkan taktik keseimbangan dalam politik, menjatuhkan Deng Xiaoping, merebut kekuasaan militer dari Ye Jianying (jenderal senior AD berpengaruh di dalam angkatan bersenjata), seolah menekan sayap kanan, tidak memberikan kekuasaan pada grup sayap kiri Jiang Qing (dibaca: ciang jing, sang istri) dan Zhang Chunqiao seolah meremehkan sayap kiri, di sisi lain menyisakan ruang gerak bagi Deng Xiaoping dan Ye Jianying untuk melihat perkembangannya di kemudian hari.

Mao berkali-kali mengisyaratkan Jenderal Ye Jianying dan kawan-kawan: jika Ye berhasil, maka boleh membawa panji Mao, dan sekaligus memberikan dukungan pada kelompok Jiang dan Zhang, meskipun belum diberi kekuasaan mutlak, namun sudah berstatus pejabat utusan, ini juga sebagai sinyal seandainya mereka mampu, maka mereka dapat mewakili Mao.

Mao justru menyerahkan kekuasaan tertinggi pada kelompok tengah, yakni Hua Guofeng (presiden RRT dan ketua PKT 1976-1981) yang “jujur”. Mao mempertaruhkan kelompok manapun yang nantinya berhasil meraih kekuasaan absolut akan tetap mengusung panji Mao dan memimpin negara. Ternyata memang demikian, hingga saat ini di internal PKT tidak ada satu orang pun yang berani menyangkal Mao. Dengan kata lain, meskipun jasad Mao telah mati, tapi ia tetap menjadi pemenang tunggal di ajang persengketaan politik di dalam partai. Mao yang sudah almarhum mengendalikan PKT yang masih hidup.

Satu teka-teki yang belum terungkap adalah, dengan kebesarannya itu, tidak mungkin Mao tidak meninggalkan surat wasiat. Menjelang ajalnya, Mao meninggalkan sebuah lemari berisi dokumen paling rahasia, kuncinya diserahkan pada sekretaris utamanya Zhang Fengyu. Setelah Mao meninggal, Jiang Qing pernah meminta kunci itu pada Zhang, tapi Zhang Fengyu tidak memberikannya, kemudian kunci itu diserahkan Zhang kepada Wang Dongxing (kepala biro keamanan merangkap komandan pasukan khusus 8341). Hua Guofeng buka kartu dengan Jiang Qing dengan Wang berdiri di pihak Hua. Jiang kalah, kemudian baik Hua, Ye Jianying maupun Wang pun sepakat, dokumen rahasia Mao harus selamanya tersegel di dalam lemari itu.

Bisa dibayangkan, di dalam lemari dokumen rahasia milik Mao itu pasti tersimpan rahasia paling besar PKT, di antaranya sangat mungkin termasuk surat wasiat resmi Mao. Menurut penuturan orang dalam, suksesor yang ditunjuk Mao bukanlah Hua Guofeng, melainkan Jiang Qing (madam Mao). Setelah Jiang, Mao juga telah menunjuk pengganti Jiang untuk generasi berikutnya yakni keponakannya sendiri yang bernama Mao Yuanxin, sementara Hua Guofeng hanyalah tokoh transisi yang diakui oleh Mao saja.

Setelah peristiwa 5 April 1976, Mao menginstruksikan Hua Guofeng untuk menjabat sebagai Wakil Ketua I PKT Pusat merangkap Perdana Menteri. Hua pun menjadi orang kedua RRT, bagi pihak luar itulah kehebatan seorang suksesor, tapi satu hal terlewatkan. Mao sama sekali tidak memberikan jabatan apa pun bagi Hua di dalam Komisi Militer, seperti Wakil Ketua Komisi Militer Pusat dan lain-lain.

Sementara kehidupan politik di dalam PKT secara dogma adalah partai mengendalikan militer, padahal kenyataannya militer mengendalikan partai, siapa pun yang memiliki kekuasaan militer, dapat menguasai kekuasaan tertinggi politik. Sehingga saat ingin mengeksekusi Kelompok Empat (grup madam Mao), Hua Guofeng yang tidak memiliki kekuasaan militer pun mencari Jenderal Ye Jianying yang telah dinon-aktifkan dengan alasan perawatan kesehatan oleh Mao menjelang ajalnya, waktu itu Ye secara gelar memang masih menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Militer Pusat, padahal yang sehari-harinya menjalankan pekerjaan di Komisi Militer Pusat bukan Ye melainkan Chen Xilian.

Jelas bahwa sikap konservatif Mao terhadap Hua ada maksud tertentu, setelah Jiang Qing dan kelompoknya lengser, media massa penyambung lidah PKT dikuasai Hua, dan Mao pernah memberikan instruksi pribadi bagi Hua, “Jika Anda melakukan pekerjaan, saya merasa tenang.” Namun di pengadilan tahun 1981, Jiang Qing mengungkap instruksi Mao secara lengkap kepada Hua tersebut, “Jika Anda melakukan pekerjaan, saya merasa tenang, jika ada masalah cari saja Jiang Qing”.

Dilihat dari sisi lain, Jiang Qing adalah suksesor yang sebenarnya, sebelum ajalnya, Mao tidak secara jelas mengangkat Jiang karena ingin menguji sang istri dan berpikir asalkan sudah diatur sedemikian rupa, Jiang pasti ada cara. Mao berharap agar Jiang bisa seperti Permaisuri Cixi di zaman akhir Dinasti Qing, begitu waktunya tiba langsung melancarkan kudeta dan membunuh para pejabat, untuk merebut kekuasaan. Betapa pun hebatnya perhitungan Mao, tetap ada yang meleset.

Mao tidak menyangka, yang memutus keberlangsungan kekuasaan keluarga Mao justru “orang jujur” itu. Dari balik bayang-bayang pengaruh Mao yang belum lama almarhum, Hua Guofeng lebih dulu bertindak dengan melakukan kudeta menangkap Jiang Qing, Mao Yuanxin (keponakan Mao Zedong) dan kerabat Mao lainnya, lalu menobatkan dirinya sebagai pemimpin tertinggi.

Mengungkap Mao adalah sebuah kunci untuk membuka masa depan Tiongkok, suatu hari nanti foto Mao akan diturunkan dari Tiananmen, jasad Mao akan disingkirkan dari Lapangan Tiananmen, wajah Mao akan hilang dari mata uang RMB, dan negara klasik Asia Timur itu akan menyongsong babak baru yang lain. (Chen Pokong / The Epoch Times / sud)



 
 


   Berita / Artikel Terkait :
  15-5-2013 21:12:43 Dosen Harvard: RRT dan Rusia Tak Paham Arti Soft Power
  11-5-2013 20:29:11 Tahun 1999 Kedubes RRT di Yugoslavia Dibom, Intrik Apa yang Dimainkan Jiang?
  11-5-2013 20:25:27 Sejarah Kegemilangan Negara Inggris: Madam Thatcher Juga Menjadi Teladan bagi Kaum Pria (2)
  10-5-2013 09:25:36 Ekonom: Pencetakan Uang Massal Bahayakan Ekonomi RRT
  09-5-2013 18:06:32 Bencana Alam Adalah Vonis Sang Pencipta Terhadap Penguasa - Makna di Balik Gempa Lushan, RRT

   Kembali ke atas
 
 
Klik di sini untuk melihat Foto2 Produk Kami di Facebook
 
Epochtimes Indonesia e-paper
 
NTDTV Live Streaming
 
 
 
 
 
   


  About Us | Redaksi | Pasang Iklan | Contact Us | e-Paper | Mobile | Radio | TV | Sitemap | RSS Feeds  
 
Bahasa :
 
 
Copyright 2008 The Epoch Times Indonesia
Ketentuan Penggunaan | Disclaimer