Home Berita Nasional Berita Internasional Berita dan Budaya China Bisnis dan Ekonomi Kehidupan Kesehatan Iptek Entertainment Wisata dan Keluarga Serba Serbi Video Youmaker

Percetakan dan Souvenir
Page : << 1 2 3 4 5 ... 87 >>

Share:   Lintas Berita     Facebook     Tweet     Google     Digg     del.icio.us

 Cetak    Email    Komentar

Selasa, 10 Juli 2012
MISTERI PUISI DALAM RIBUAN TAHUN SEJARAH TIONGKOK (1), BAGIAN I: DINASTI QIN


Ilustrasi ke-6 “Ilustrasi Mendorong Punggung”. (WIKIPEDIA)
Ilustrasi ke-6 “Ilustrasi Mendorong Punggung”. (WIKIPEDIA)
(Epochtimes.co.id)

Menelusuri sejarah Tiongkok, seakan menyimpan sebuah maha misteri. Dari puisi-puisi “Qian Kun Wan Nian Ge” (Pujian Ribuan Tahun Alam Semesta)-Dinasti Zhou ; “Ma Qian Ke” (Pelajaran di Depan Kuda)-Dinasti Han ; “Tui Bei Tu” (Ilustrasi Mendorong Punggung)-Dinasti Tang, “Mei Hua Si” (Syair Bunga Plum)-Dinasti Song, hingga “Shao Bing Ge” (Pujian Kue Kering)-Dinasti Ming, setiap dinasti yang berlangsung langgeng dan tentram dari penguasa etnis Han telah mewariskan sebuah prediksi yang sistematis dan akurat (dalam bentuk puisi).

Yang lebih misterius lagi adalah, dari Jiang Zhiya-Dinasti Zhou (770SM-256SM), Zhang Liang-Dinasti Han (202SM-220M), Xu Maogong dan Li Jing-Dinasti Tang (618-907), Miao Guangyi-Dinasti Song (960-1279) hingga Liu Bowen-Dinasti Ming (1368-1644), setiap penasehat pribadi kaisar semuanya adalah pendeta Tao.

Ini seakan-akan merupakan sebuah mitos bersama yang ditinggalkan oleh bangsa kuno untuk kita semua, sekaligus merupakan sebuah prediksi paling misterius sepanjang masa. Kapankah sang maha kuasa akan kembali? Dalam hari-hari menanti kembalinya sang maha kuasa, akan terjadi peristiwa apakah pada umat manusia?

Sebuah peradaban kuno dengan cara demikian meninggalkan kepada kita sebuah ruang kosong besar di tengah jangka waktu tersebut. Mungkin di sinilah perlunya kita mencari jawaban rinci dari bumi misterius Tiongkok ini dan dari proses peradabannya yang sedemikian panjang.

“Tahun ini Naga Leluhur Wafat”

Oktober tahun 210 SM. Panji dan bendera berkibar menutupi cahaya matahari, bunyi konvoi kereta kuda bergema, kaisar I Tiongkok, Qin Shi Huang (baca: jhin she huang) memimpin barisan besar pengawal dan ratusan pejabat sipil dan militer, meninggalkan Ibukota Xian Yang (baca: sien yang) memulai perjalanan keliling ke seluruh negeri untuk ke-5 kalinya. Ketika sang kaisar untuk terakhir kali menoleh mengamati istananya yang megah di Kota Xian Yang, ia tak mengira, kepergiannya kali ini adalah untuk selamanya.

Pada malam musim gugur setahun sebelumnya, ketika seorang utusan kaisar melewati sebuah jalan yang teduh dan lapang, seseorang dengan membawa sebuah perhiasan batu giok menghadangnya di tengah jalan dan mengatakan: ”Mohon batu giok perhiasan saya ini dihaturkan kepada baginda kaisar.” Dan sambil nyeletuk: ”Tahun ini naga leluhur mati.” Sang utusan merasa heran, ketika hendak menanyakan lebih lanjut, orang tersebut meletakkan batu giok itu di atas tanah dan langsung saja menghilang.

Si utusan membawa batu giok tersebut kembali ke ibukota dan melaporkan kejadian tersebut kepada kaisar. Setelah kaisar terdiam cukup lama, kemudian ia mengutus seseorang memeriksa ke dalam kamar penyimpanan barang Kaisar, ditemukan bahwa batu giok itu adalah perhiasan yang hilang tenggelam ketika kaisar melakukan perjalanan keliling negeri melewati sebuah sungai pada 8 tahun silam.

Konvoi tersebut berjalan perlahan-lahan di tengah tiupan angin musim salju yang dingin, di hamparan bumi yang luas tanaman nampak layu dan kering. Kaisar Pertama Qin yang pernah gagah perkasa sekarang bagaikan lampu tempel yang telah kehabisan minyak. Merenungi kembali kebanggaan di saat ia sukses menyatukan seluruh negeri dan memiliki kekuasaan absolut, barangkali di dalam hati kaisar mendesah menyesali singkatnya perjalanan hidup manusia.

Di hadapan malaikat kematian, manusia sungguh sangat lemah tak berdaya. Ia teringat kembali Fu Su, putra sulungnya yang lantaran berani mencoba mencegahnya mengubur hidup-hidup para cendekiawan Konghucu, sehingga dibuang ke Shangjun, mendampingi jenderal Meng Tian bersama-sama menjaga daerah perbatasan, maka diturunkan surat perintah kepada Fu Shu: ”Silahkan kembali ke Xian Yang mengurusi pemakaman.” Sepertinya sang kaisar pada akhirnya menyadari apa makna “Tahun ini naga leluhur mati”. “Naga” adalah simbol kaisar yang lazim disebut Putra Langit Naga Sejati, sedangkan “Leluhur” bermakna yang pertama, bukankah yang dimaksud dengan “Naga leluhur” adalah Kaisar Pertama Qin? Dirinya sendiri?

Batas waktu terakhir telah tiba, kehidupan Kaisar Pertama Qin yang pernah begitu berkuasa itu telah berakhir begitu saja. Hu Hai, demikian nama putra bungsunya, Li Si, perdana menteri dan Zhao Gao, pejabat tinggi bidang kesehatan, ketiga orang yang ia percayai dan ia sayangi tersebut tak dinyana langsung mengkhianatinya. Mereka mengubah surat perintah, memerintahkan Fu Su dan Meng Tian bunuh diri dan mengangkat Hu Hai sebagai kaisar, inilah kaisar Qin kedua.

“Yang Membinasakan Qin adalah Hu”

Kaisar Qin II adalah playboy yang hanya tahu berfoya-foya, bukan hanya tidak memiliki bakat dan pandangan luas seperti Kaisar Pertama Qin, bahkan kehidupannya jauh lebih boros dan bejat. Hingga pada Juli tahun pertama Kaisar Qin II (209 SM) memerintah, pemberontakan petani terjadi di Desa Da Ze yang dipimpin Chen Sheng dan Wu Guang yang mendapat dukungan dari rakyat seluruh negeri. Para keturunan raja lokal enam negara (penguasa negara bagian) satu per satu kembali memulihkan kerajaan mereka masing-masing.

Tahun ke-3 pemerintahan Kaisar Qin II, Dinasti Qin telah tercerai berai, Kasim Zhao Gao yang mencelakakan negara dan rakyat, telah 3 tahun penuh mengelabui sang kaisar, 3 tahun penuh mempermainkan tipu-muslihatnya, menikmati kedudukan dan kekayaannya. Kini kejayaan telah berlalu, Zhao khawatir Kaisar Qin II menuntut dosa kejahatannya, maka ia memerintahkan Yan Le menikam sang kaisar hingga tewas di istana Wang Yi.

Selanjutnya Zhao Gao memberitahu seluruh pejabat dan para pangeran: “Negara Qin asalnya juga sebuah negara bagian, berkat Kaisar I telah menyatukan seluruh kerajaan, maka ia menobatkan dirinya sebagai Kaisar. Namun kini 6 negara itu satu per satu telah memulihkan kekuasaan kerajaannya, daerah kekuasaan Qin semakin mengecil, tidak pantas menyandang gelar kosong sang kaisar lagi, lebih baik disebut raja saja.”

Untuk menghindari ketidakpuasan para pejabat lama maka dengan terpaksa diangkatlah Zi Ying (diduga salah seorang putra Kaisar Qin) oleh Zhao Gao sebagai raja Qin. Dengan demikian Kaisar pertama Qin yang ingin mewariskan kekaisarannya kepada anak cucu untuk selamanya, tamatlah sampai disini. Ini sekali lagi membuktikan kebenaran prediksi yang pernah membuat Kaisar Qin hidup tidak tenang, yaitu “Yang membinasakan Qin adalah Hu”.

Itu terjadi pada saat sang kaisar baru naik tahta 6 tahun, Lu Sheng yang diutus menemukan dewa dan pendeta Tao kembali dengan membawa sebuah ramalan tabu: “Yang membinasakan Qin adalah Hu”. Kaisar Qin menganggap ini jelas yang dimaksud adalah Suku Hun (suku nomaden etnik Turki yang kala itu eksis di wilayah utara Tiongkok), maka itu ia memerintahkan Jenderal Meng Tian memimpin 300.000 tentara menyerang suku Hun di utara dan memulai proyek pembangunan Tembok Besar (untuk menghadang serangan para suku nomaden dari utara).

Siapa tahu hukum Langit sangat mendalam dan jauh jangkauannya, makna sebenarnya dalam ramalan tersebut ternyata adalah, “Dinasti Qin akan binasa ditangan Kaisar Qin kedua yakni Hu Hai.”

Dalam “Catatan Sejarah - Masa Kaisar Pertama Qin” mencatat dua prediksi tersebut yang akurasinya telah membuat orang terkagum-kagum. (The Epoch Times / tys)

Bersambung



 
 


   Berita / Artikel Terkait :
  21-5-2013 23:18:55 Tradisi Hari Ibu dan Makna Pentingnya di Seluruh Dunia
  21-5-2013 14:16:19 Komunitas Susastra Nusantara Ajak 100 Orang Menulis Cerpen
  20-5-2013 00:43:31 Kebun Anggur Tiongkok Ancam Habitat Panda
  18-5-2013 08:55:02 Fakta Mengerikan Berlebihnya Gender Pria Tiongkok
  16-5-2013 22:32:28 Serial Pandangan Medis Tradisional Tiongkok: Tips Pemilihan Pakaian Bayi agar Anak Tidak Mudah Sakit

   Kembali ke atas
 
 
Klik di sini untuk melihat Foto2 Produk Kami di Facebook
 
Epochtimes Indonesia e-paper
 
NTDTV Live Streaming
 
 
 
 
 
   


  About Us | Redaksi | Pasang Iklan | Contact Us | e-Paper | Mobile | Radio | TV | Sitemap | RSS Feeds  
 
Bahasa :
 
 
Copyright 2008 The Epoch Times Indonesia
Ketentuan Penggunaan | Disclaimer