Home Berita Nasional Berita Internasional Berita dan Budaya China Bisnis dan Ekonomi Kehidupan Kesehatan Iptek Entertainment Wisata dan Keluarga Serba Serbi Video Youmaker

Percetakan dan Souvenir
Page : << 1 2 3 4 5 ... 87 >>

Share:   Lintas Berita     Facebook     Tweet     Google     Digg     del.icio.us

 Cetak    Email    Komentar

Sabtu, 30 Juni 2012
CORONG PARTAI DUKUNG KORUT, TERJEBAK DILEMA


Beberapa hari lalu, situs internet RRT mengutip berita dari surat kabar People’s Daily mengenai seorang anak di Korut yang makan 5 kali dalam sehari, berita ini pun memicu kegemparan di dunia internet. Para netter serempak menuntut PKT agar menghentikan bantuan, dan terlebih dahulu mengenyangkan anak-anak negeri sendiri. (GETTY IMAGES)
Beberapa hari lalu, situs internet RRT mengutip berita dari surat kabar People’s Daily mengenai seorang anak di Korut yang makan 5 kali dalam sehari, berita ini pun memicu kegemparan di dunia internet. Para netter serempak menuntut PKT agar menghentikan bantuan, dan terlebih dahulu mengenyangkan anak-anak negeri sendiri. (GETTY IMAGES)
(Epochtimes.co.id)

Pengobatan gratis, makan 5 kali sehari, pendidikan gratis 11 tahun. Bahkan di RRT yang “tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi” pun tidak mampu melakukannya, sebaliknya justru dapat terwujud di Korut yang ekonominya kolaps? Sungguh mengejutkan.

11 Juni lalu, surat kabar RRT People’s Daily (Ren Min Ri Bao) memuat artikel khusus berjudul Masa Depan Korut, Tumbuh di Tengah Kasih, yang memuji “kehidupan rakyat Korut yang bahagia”. Artikel tersebut ditulis oleh Perwakilan Kantor Surat Kabar People’s Daily.

Menurut artikel tersebut: baru-baru ini sebuah tim perwakilan yang dibentuk oleh reporter wanita People’s Daily (media partai terbesar di RRT), berkunjung ke Korut dalam rangka “tukar pengalaman” dengan para reporter wanita dari surat kabar Rodong Shimbun (surat kabar partai terbesar Korut), sekaligus melakukan kunjungan 5 hari di Pyongyang, “Dimana-mana, Korut dalam 10-20 tahun terakhir telah meraih berbagai prestasi dalam berbagai aspek yang dapat disaksikan.”

Berita tersebut memfokuskan pada aspek sosial wanita dan anak-anak. Setelah berkunjung ke Rumah Bersalin Pyongyang yang merupakan rumah bersalin berskala terbesar dan menyambut kelahiran lebih dari 20.000 bayi setiap tahunnya, penulis menyimpulkan, “Korut menerapkan pengobatan gratis dan para wanita hamil begitu masuk rumah sakit, urusan makanan bahkan sudah ditanggung oleh RS…”

Artikel tersebut pun memicu pembicaraan hangat di kalangan netter Tiongkok, ada netter yang prihatin: jika memang fasilitas untuk melahirkan di Rumah Sakit Korut begitu baik, lalu mengapa istri para pejabat dan konglomerat RRT juga istri pimpinan redaktur surat kabar partai berikut istri muda mereka masih saja melahirkan di Hong Kong? Mengapa tidak melahirkan di Korut saja? Sekaligus memberikan jaminan bagi si jabang bayi, menyambut “masa depan indah” bagi generasi penerus pejabat, kader partai, atau konglomerat.

Ada juga netter yang meragukan: Korut begitu sejahtera, lalu mengapa para pejabat PKT, justru memindahkan putra-putri mereka ke tempat “musuh bebuyutannya” yakni AS, mengapa tidak menempatkan keluarga mereka di negara “sahabat terdekatnya” Korut yang seperti surga itu?

Setelah melihat-lihat di Taman Kanak-Kanak Chang-gwang yang luasnya mencapai 13.000 meter² dan memiliki lebih dari 800 anak balita didik, artikel tersebut menyebutkan, “Anak-anak disini makan 5 kali sehari, ada ahli gizi yang secara khusus meracik komposisi gizi bagi mereka.”

Padahal dalam catatan badan bantuan internasional menunjukkan, di Korut telah terjadi wabah kelaparan selama beberapa tahun berturut-turut, yang menewaskan lebih dari 2 juta jiwa; bahan pangan harus tergantung dari bantuan asing dan diterapkan penjatahan, setiap orang setiap harinya hanya dijatah kurang dari 250 gram. Sekitar 1/3 bayi Korut menderita kelaparan, tingkat kematian bayi melambung, rasio jumlah anak-anak dibanding populasi negara itu merosot drastis.

Satu lagi fakta adalah, RRT telah merawat Korut sekian lama, tidak hanya menyuplai kebutuhan 70% batu bara, listrik dan lain-lain untuk Korut, melainkan juga memberikan bantuan pangan dalam jumlah besar. Tahun 2005, saat RRT mengumumkan dirinya sebagai negara penyumbang pangan ketiga terbesar, masyarakat pun terkejut setelah menemukan ternyata 90% sumbangan pangan RRT ke luar negeri diberikan pada Korut.

Dan beberapa tahun terakhir, setiap kali pemimpin PKT berkunjung ke Korut, dengan alasan “persahabatan RRT-Korut” telah menggelontorkan sedikitnya 600 juta – 2 miliar dolar AS.

Artikel tersebut menyimpulkan: “Sangat melegakan bahwa mulai dari lahir hingga terjun ke masyarakat, anak-anak Korut mendapat perlindungan yang seksama dan pendidikan yang baik… perhatian yang tinggi terhadap pendidikan, akan memberikan motivasi perkembangan yang tak terhingga bagi Korut, membantu mereka mampu memenangkan satu persatu hambatan, mewujudkan sasaran pembangunan negara yang kuat dan kaya, meraih kehidupan yang bahagia.”

Apakah artikel tersebut hendak menyampaikan: Meskipun RRT kaya, tapi rakyat justru tidak bisa menikmatinya? Meskipun Korut miskin, tapi rakyat justru terjamin kesejahteraannya? Atau, hendak menyampaikan, semua kejayaan, kemakmuran, dan kedigdayaan RRT itu palsu belaka? Sementara “prestasi di berbagai aspek” di Korut justru adalah fakta?

Rumah sakit bersalin paling elit, taman kanak-kanak terbaik, Istana Taruna terbesar... Dalam tempo 5 hari saja, yang telah dilihat oleh para reporter perempuan PKT adalah proyek prestisius dan pencitraan oleh rezim keluarga Kim; apalagi perjalanan itu terbatas hanya di Pyongyang saja, dan belum melihat bagian Korut lainnya di luar ibukota, terutama desa-desa petani di Korut yang dilanda kelaparan dan kedinginan.

Hal ini membuat orang teringat akan awal era 60-an, dikala terjadi kelaparan besar di Tiongkok, seluruh dunia menyoroti peristiwa ini, disutradarai oleh Mao Zedong dan Zhou Enlai, PKT mengundang repoter AS bernama Edgar Snow dan panglima Inggris Montgomery untuk datang berkunjung ke RRT. Kemana pun mereka pergi, yang terlihat bukan hanya tidak ada kelaparan, melainkan juga “kemakmuran” yang melimpah. Sehingga Snow dan Montgomery sekembalinya mereka ke negara masing-masing dengan lantang menyatakan pembuktian kepada dunia luar bahwa “tidak terjadi kelaparan di Tiongkok”.

Jika hal itu tidak benar, sebagai surat kabar People’s Daily yang membuat berita palsu dan menjadi dalang, dosa apa yang harus ditanggungnya? Bukankah sepantasnya dibredel, ditindak dan dihukum? Setidaknya, redaktur, dan para reporternya harus dipecat, seperti surat kabar lainnya.  (Chen Pokong / The Epoch Times / sud)



 
 


   Berita / Artikel Terkait :
  15-5-2013 21:12:43 Dosen Harvard: RRT dan Rusia Tak Paham Arti Soft Power
  11-5-2013 20:29:11 Tahun 1999 Kedubes RRT di Yugoslavia Dibom, Intrik Apa yang Dimainkan Jiang?
  10-5-2013 09:25:36 Ekonom: Pencetakan Uang Massal Bahayakan Ekonomi RRT
  09-5-2013 18:06:32 Bencana Alam Adalah Vonis Sang Pencipta Terhadap Penguasa - Makna di Balik Gempa Lushan, RRT
  08-5-2013 11:09:41 Biang Keladi 2 Kali Gempa Sichuan Adalah Zhou Yongkang - Mantan Sekprov Sichuan, RRT, yang Dituding Paksakan Proyek Dam

   Kembali ke atas
 
 
Klik di sini untuk melihat Foto2 Produk Kami di Facebook
 
Epochtimes Indonesia e-paper
 
NTDTV Live Streaming
 
 
 
 
 
   


  About Us | Redaksi | Pasang Iklan | Contact Us | e-Paper | Mobile | Radio | TV | Sitemap | RSS Feeds  
 
Bahasa :
 
 
Copyright 2008 The Epoch Times Indonesia
Ketentuan Penggunaan | Disclaimer